Bukan Penempatan

20130430_163539

Sudah 3 hari saya resmi bekerja di tempat yang baru. Penempatan Win? Bukan! Tempat baru itu maksudnya cuma pindah meja kerja saja tetapi masih dalam satu direktorat yang sama. Hal ini terjadi karena pegawai yang kemarin dimutasikan ke direktorat kami sudah mulai berdatangan. Terpaksalah yang masih anak magang mengalah. Mendahulukan pegawai yang sudah resmi menjadi PNS. Padahal kami sudah satu tahun loh disini. Masa senior malah ‘diusir’?

Kami dipindahkan ke suatu ruang rapat. Jadi, eksklusif gitu. Tapi untungnya di ruang rapat ini sudah disulap menjadi ruang IT. Ada komputer beserta jaringan dan printer. Kalau anak-anak  sih bilangnya sudah kayak warnet.

Enaknya di tempat baru adalah kalau bekerja bisa fokus. Tidak terganggu dengan hal remeh temeh. Selain itu, kecepatan internet yang sudah di-setting high performance memudahkan kami untuk berselancar di dunia maya. Semburan Freon dari AC yang nangkring di pojok kanan atas semakin membuat nyaman ruangan ini.

Walaupun demikian, ada sisi negatif nya juga sih. Karena di dalam ruangan, sosialisasi kami dengan pegawai lain pastinya akan berkurang. Jadi, interaksinya sedikit banget. Kalau pas keluar aja baru bisa say hello. 

Semoga di ruangan ini, kita bisa selalu kompak!

Keluarga baru: Ipul, Amri, Ipun, Hesty, Wawi, Dona.

img1367313265369

*Belakangan, gegara tempat baru ini, saya jadi inget jargon yang sering dikumdangkan pas SMA: “Tempat baru, Semangat Baru”. YOSH!

Iklan

Operasi Usus Buntu

Setelah rapelan datang, banyak yang minta traktiran. Salah satunya adalah kakak saya. Oke. Memang itu sudah semestinya saya lakukan. Tanpa disuruh sekalipun. Soalnya, sebelum hak-hak sebagai CPNS dibayarkan, beliau lah yang tiap bulan mengirimkan uang tambahan.

Untuk traktiran, tak banyak yang beliau minta. “Win, makan siang di Pizza H*t ya!”. Tapi karena siangnya saya sudah janji akan ngaterin Bembi ke Gramedia Matraman, saya minta waktunya diganti ke malam saja. Oke. Kakak saya pun menyetujuinya.

Pas malam, setelah solat maghrib, tiba-tiba kakak saya menelpon. “Win, besok Minggu aja ya. Perut kak Eko sakit. Kayak sembelit”. Lah, kok bisa? Ternyata siang tadi kakak saya makan batagor. Yasudah, acara di-cancle.

Besok Minggu si kakak nelpon lagi, “Win, sakitnya gak ilang-ilang. Kakak mau cek dulu ke rumah sakit. Makan-makannya ditunda dulu aja ya”. Akhirnya, acara ditunda dan kakak saya ke rumah sakit.

Jam sebelasan, ada telpon dari sebrang. “Win, kata dokter kakak kena usus buntu. Nanti sore mau dioperasi!”. Astaghfirullah. Saya kaget mendengar kabar tersebut. Sungguh, ini diluar dugaan. Awalanya cuma gara-gara makan batagor. Terus sembelit. Tiba-tiba divonis kena usus buntu. Semua serba mendadak.

Baca lebih lanjut

wacana rujuk antara DJA dan DJPB

Prajab memang telah usai. Tapi kenangannya masih terus saja ada di pikiran. Salah satu memori yang masih tersimpan adalah tentang kegiatan belajar mengajar di kelas.

Suatu siang pada saat di kelas, saya mengajukan pertanyaan ke dosen. “Pak, menurut saya Kemenkeu ini terlalu besar. Terlalu gemuk. Organisasi kita ini membawahi 12 11 unit Eselon I. Selain itu, business process yang ada banyak sekali yang berkaitan dengan Kementerian lain. Baik itu dalam hal penganggaran, perbendaharaan, dan juga kebijakan fiskal.  Jadi, sudah besar, menjalar pula. Sehingga mau gerakpun susah.” *sebenernya kalimatnya gak kayak gini sih pas ngajuin pertanyaan itu*

Setelah epilog tersebut masuklah saya ke intinya “Apa tidak ada wacana untuk perampingan organisasi, Pak?”. Menanggapi pertanyaan saya itu sang dosen bilang “Wah, ini pertanyaan bagus. Siapa yang mau komentar?”. Ternyata si Bapak tak menjawab pertanyaan saya. Malah teman-teman kelas yang disuruh jawab. Sayangnya, saya belum mendapatkan jawaban yang pas dari mereka yang menjawab. *too bad*

Pekan kemarin, saya mendengar Kemenkeu akan melakukan perampingan struktur organisasi. Dalam hati saya berkata “Wah, ini kan sama seperti yang pernah saya tanyakan pas prajab!”. Saya coba mencari kebenaran berita tersebut. Sayangnya, ternyata berita tersebut masih dalam wacana. Ya sudahlah.

Baca lebih lanjut

Filsafat Ilmu (Review)

FI

sumber

Ilmu dimulai dari rasa ingin tahu. Kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu. Dan filsafat dimulai dari keduanya. Berfislasafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicarai telah kita jangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu ? bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu? Apakah kegunaan ilmu yang sebenarnya?

Baca lebih lanjut

99 Cahaya di Langit Eropa (Review)

cover-99for-web1

sumber

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar “Eropa”? Eiffel? Colloseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?

Bagi Hanum, Eropa adalah sejuta misteri tentang peradaban yang sangat luhur, perdaban keyakinannya, Islam.

Novel “99 Cahaya di Langit Eropa” ini bercerita tentang perjalanan sebuah “pencarian”. Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.

Dalam perjalanan tersebut, Hanum, sang penulis sekaligus tokoh utama dalam novel tersebut, bertemu orang-orang yang mengajarinya apa itu Islam rahmatan lil ‘alamain.

Buku ini ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa dulu Islam sangat berkembang selama 12 abad. Kejayaan Islam bahkan hingga ke Eropa. Selama lebih dari seribu tahun itu, dunia dibuat takjub dengan ilmu pengetahuan dan peradaban yang sangat maju di negri-negri Islam. Sayang, mulai abad XIX kekhalifahan Islam mulai runtuh. Hingga akhirnya di tahun 1924 kekhalifanan Ottoman resmi membubarkan diri.

Walaupun sekarang Eropa bukanlah negara Islam, tapi sisa-sisa peradaban Islam masih banyak yang terjaga. Mulai dari Mezquita di Cordoba, Hagia Sophia di Turki, Kopi Capucino di Italia, Bunga Tulip di Belanda, hingga Axe Historique di Paris.  Jejak-jejak peradaban itulah yang coba dikumpulkan oleh penulis melalui perjalanannya bersama Rangga sang suami.

Selain itu, sang penulis ingin menyampaikan bahwa kehidupan di luar negeri dan interaksi dengan realitas sekulerisme jangan sampai membuat kita menjadi terbawa arus westernisasi. Bahkan dalam novel ini diceritakan bagaimana seorang Muslim mampu bertutur dan berpikir ‘out of the box’ tanpa mengurangi esensi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamain.

Selamat membaca!

Jangan Jadi Superman

superman

sumber

Di kantor saya ada seorang super hero. Kami memanggilnya dengan sebutan Superman. Manusia super! Walau tak se-super dengan tokoh Superman ciptaan Jerry Siegel dan Joe Shuster. Tapi misinya sama: selalu melindungi orang yang membutuhkan pertolongan.

Karena ini kantor, pastinya bentuk pertolongan berbeda. Kalau Superman membasmi kejatahan, ‘Superman’ di kantor saya ini membasmi pekerjaan. Maksud saya kalau ada pekerjaan yang belum beres akan diselesaikan oleh beliau.

Jadilah tempat duduk Superman ini banyak dikunjungi orang. Seperti pusat pengaduan. Atau sekadar curhat dan konsultasi. Hampir-hampir semua kerjaan ditangani oleh beliau. Padahal, organisasi kantor sudah punya hirarkinya. Di direktorat saya ada lima subdit. Dari subdit-subdit itu rata-rata terbagi menjadi empat seksi. Setiap seksi pasti memiliki stafnya sendiri. Minimal tiga orang.

Namun mengapa pekerjaan harus menumpuk pada sang super hero?

Baca lebih lanjut

Hati Tiga Dimensi

hati 3 dimensi

 

sumber

Potongan Pertama

Mesin absen kantor sudah tak finger print lagi. Sekarang mesti berpindah ke hand key. Kayak pegawai beneran. Sayangnya, walau SK sudah keluar dan sudah hand key, tetap saja statusnya belum ditanggalkan. Tapi tak mengapa. Apalah arti sebuah nama, kata William Shakespeare. Yang penting substansinya. Untuk hal tertentu saya setuju. Dan dalam hal  ini salah satunya.

Tentang pekerjaan pun ternyata juga sama. Substance over form.  Seorang anak magang itu, nasihat pak Adi, sama seperti sepuluh orang pegawai! Mungkin nasihat itu terlontar manakala beliau selesai membaca potongan ayat di surat Al-Anfal. Bahwa, seorang yang sabar bisa menang dalam peperangan melawan sepuluh orang musuh. Bahkan, di ayat sebelumnya, seorang mujahid yang sabar itu setara dengan seratus orang. Luar biasa bukan?

Baca lebih lanjut