Yaumul walad: Penempatan!

June,4

Pagi itu cuaca pagi agak mendung. Mungkin sedang menyesuaikan dengan suasana hati para pegawai yang berada di jalan Wahidin. Beberapa orang masih bisa terseunyum dan tertawa. Sebagian yang lain terlihat deg-degan dan tak banyak bicara. Golongan terakhir ini mungkin perlu diberi minum kopi. White Coffee yang gak bikin deg-degan.

Sekitar pukul sepuluh pagi, semua orang berkumpul di sebuah gedung. Gedung yang dianggap keramat oleh instansi kami. Gedung yang selalu membuat sejarah. Membuat orang yang keluar dari sana pasti akan mengingat apa yang telah terjadi di gedung itu.

Nama gedungnya memang tak jelas. Kami hanya menyebutnya dengan panggilan Ex-MA. Kata Ex menunjukan bahwa gedung tersebut awalanya bukanlah milik kami. Gedung itu dulunya milik Mahkamah Agung. Karena MA sudah tidak di daerah lapangan banteng lagi, gedung itu dikelola oleh Ditjen Perbendaharaan.

Hari itu ada sebuah acara dari bagian kepegawaian. Kalau dilihat dari perihal surat undangannya, maka akan jelas terlihat bahwa acara itu hanya sebuah pengarahan. Sebagian menganggap bahwa sebuah pengarahan biasa dari Kabag Kepegawaiaan. Karena sudah lama tidak “bertemu”. Jadi mau dikasih nasehat: hey, mestinya kamu begini, begitu, begono!

Tapi bagi yang belum minum white coffee tidaklah menganggap demikian. Yang dimaksud pengarahan itu adalah dalam sebuah tanda petik. Skemanya begini: semua berkumpul di dalam gedung. Lalu “di arahkan” satu persatu, “Hey, kamu di sini, kamu di sana, dan kamu di sono!”

Manakah dari dua skenario di atas yang benar?

Setelah “diundi lewat lempar koin” ternyata skenario kedualah yang menang. Huft. Alhamdulillah. Hari yang dinantikan itupun tiba: PENEMPATAN!

Pengumumannya tidak dibacarakan. Melainkan satu per satu diminta maju ke depan. Mengambil sebuah amplop cokelat yang berisi SK Penempatan. Sebelum kembali ke tempat duduk masing-masing, kami diminta berfoto sambil menunjukan amplop keramat.

Setelah semuanya telah mengambil amplop cokelat tersebut kami masing-masing membukanya. Ada yang berteriak histeris. Ada yang langsung menangis. Dan ada juga yang palm face.

Bagaimana dengan saya sendiri? Saya mengawali dengan mengucapkan basmallah. Kemudian membuka pelan-pelan. Menarik kertas yang ada di dalamnya. Ternyata ada dua. Pertama kertas tentang grading pertama. Saya masuk ke dalam kelas VI. Kemudian lembar kedua adalah yang membuat hati tak tenang. Sebuah kertas yang bertuliskan sebuah nama tempat yang sangat asing dalam telinga: KPPN MUKOMUKO!

Di mana itu? saya bertanya ke beberapa teman. Satu. Dua. Tiga. Tak ada yang tahu di mana itu KPPN Mukomuko. Keempat kali saya bertanya barulah mendapatkan jawabannya: itu di Bengkulu Win!

Langsung saja saya memberi tahu ibu dan kakak. Mereka berdua merasa dilema. Di satu sisi mereka senang karena status kepegawaian saya sudah tetap. Namun di sisi lain saya makin jauh dari ibu dan kakak saya.

Saya pribadi merasa senang karena akhirnya bisa merasakan bekerja di KPPN. Karena sebelumnya saya hanya magang di kantor pusat dan kanwil. Jadi tak tahu sama sekali ilmu lapangan.

Bismillah. Insyaa Allah pekan depan berangkat. KPPN MUKOMUKO! ^^

Iklan

Pesona Metro Mini

Bulan Maret tahun kemarin, saya resmi magang di Ditjen Perbendaharaan. Bersama seratus teman-teman yang lain, kami dimagangkan di Jakarta. Dan sekarang sudah memasuki bulan Mei 2013. Berarti, tak terasa sudah satu tahun lebih menjadi warga ibu kota. Dan masih berstatus pegawai magang!

Di antara hal yang membosankan berkesan selama setahun di Jakarta adalah pulang-pergi kosan-kantor naik Metro Mini. Metro Mini (MM) merupakan perusahaan bus yang beroperasional di sini. Trayek perjalanannya banyak. Hampir di setiap sudut kota ada. Kalau Anda sering ke Jakarta pasti bakal sering lihat.

Saya menggunakan jasa Bus MM karena rutenya melewati kantor. Jadi, cuma sekali jalan saja kalau dari kosan. FYI, kosan saya terletak di daerah Galur. Tepat di belakang Kampus Pascasarjana STIAMI.

Saya biasa berangkat ke kantor pagi-pagi. Jika berangkat dari kosan masih pagi -sebelum pukul  07.00- maka kemungkinan perjalanannya cuma memakan waktu 20 hingga 30 menit. Tapi kalau sudah lewat jam 7 pagi, maka bersiaplah untuk menghadapi kemacetan kota Jakarta. Bila macetnya gak ketulungan, saya  bisa manyun di jalan sampai 1 jam.

Baca lebih lanjut

Bukan Penempatan

20130430_163539

Sudah 3 hari saya resmi bekerja di tempat yang baru. Penempatan Win? Bukan! Tempat baru itu maksudnya cuma pindah meja kerja saja tetapi masih dalam satu direktorat yang sama. Hal ini terjadi karena pegawai yang kemarin dimutasikan ke direktorat kami sudah mulai berdatangan. Terpaksalah yang masih anak magang mengalah. Mendahulukan pegawai yang sudah resmi menjadi PNS. Padahal kami sudah satu tahun loh disini. Masa senior malah ‘diusir’?

Kami dipindahkan ke suatu ruang rapat. Jadi, eksklusif gitu. Tapi untungnya di ruang rapat ini sudah disulap menjadi ruang IT. Ada komputer beserta jaringan dan printer. Kalau anak-anak  sih bilangnya sudah kayak warnet.

Enaknya di tempat baru adalah kalau bekerja bisa fokus. Tidak terganggu dengan hal remeh temeh. Selain itu, kecepatan internet yang sudah di-setting high performance memudahkan kami untuk berselancar di dunia maya. Semburan Freon dari AC yang nangkring di pojok kanan atas semakin membuat nyaman ruangan ini.

Walaupun demikian, ada sisi negatif nya juga sih. Karena di dalam ruangan, sosialisasi kami dengan pegawai lain pastinya akan berkurang. Jadi, interaksinya sedikit banget. Kalau pas keluar aja baru bisa say hello. 

Semoga di ruangan ini, kita bisa selalu kompak!

Keluarga baru: Ipul, Amri, Ipun, Hesty, Wawi, Dona.

img1367313265369

*Belakangan, gegara tempat baru ini, saya jadi inget jargon yang sering dikumdangkan pas SMA: “Tempat baru, Semangat Baru”. YOSH!

Operasi Usus Buntu

Setelah rapelan datang, banyak yang minta traktiran. Salah satunya adalah kakak saya. Oke. Memang itu sudah semestinya saya lakukan. Tanpa disuruh sekalipun. Soalnya, sebelum hak-hak sebagai CPNS dibayarkan, beliau lah yang tiap bulan mengirimkan uang tambahan.

Untuk traktiran, tak banyak yang beliau minta. “Win, makan siang di Pizza H*t ya!”. Tapi karena siangnya saya sudah janji akan ngaterin Bembi ke Gramedia Matraman, saya minta waktunya diganti ke malam saja. Oke. Kakak saya pun menyetujuinya.

Pas malam, setelah solat maghrib, tiba-tiba kakak saya menelpon. “Win, besok Minggu aja ya. Perut kak Eko sakit. Kayak sembelit”. Lah, kok bisa? Ternyata siang tadi kakak saya makan batagor. Yasudah, acara di-cancle.

Besok Minggu si kakak nelpon lagi, “Win, sakitnya gak ilang-ilang. Kakak mau cek dulu ke rumah sakit. Makan-makannya ditunda dulu aja ya”. Akhirnya, acara ditunda dan kakak saya ke rumah sakit.

Jam sebelasan, ada telpon dari sebrang. “Win, kata dokter kakak kena usus buntu. Nanti sore mau dioperasi!”. Astaghfirullah. Saya kaget mendengar kabar tersebut. Sungguh, ini diluar dugaan. Awalanya cuma gara-gara makan batagor. Terus sembelit. Tiba-tiba divonis kena usus buntu. Semua serba mendadak.

Baca lebih lanjut

wacana rujuk antara DJA dan DJPB

Prajab memang telah usai. Tapi kenangannya masih terus saja ada di pikiran. Salah satu memori yang masih tersimpan adalah tentang kegiatan belajar mengajar di kelas.

Suatu siang pada saat di kelas, saya mengajukan pertanyaan ke dosen. “Pak, menurut saya Kemenkeu ini terlalu besar. Terlalu gemuk. Organisasi kita ini membawahi 12 11 unit Eselon I. Selain itu, business process yang ada banyak sekali yang berkaitan dengan Kementerian lain. Baik itu dalam hal penganggaran, perbendaharaan, dan juga kebijakan fiskal.  Jadi, sudah besar, menjalar pula. Sehingga mau gerakpun susah.” *sebenernya kalimatnya gak kayak gini sih pas ngajuin pertanyaan itu*

Setelah epilog tersebut masuklah saya ke intinya “Apa tidak ada wacana untuk perampingan organisasi, Pak?”. Menanggapi pertanyaan saya itu sang dosen bilang “Wah, ini pertanyaan bagus. Siapa yang mau komentar?”. Ternyata si Bapak tak menjawab pertanyaan saya. Malah teman-teman kelas yang disuruh jawab. Sayangnya, saya belum mendapatkan jawaban yang pas dari mereka yang menjawab. *too bad*

Pekan kemarin, saya mendengar Kemenkeu akan melakukan perampingan struktur organisasi. Dalam hati saya berkata “Wah, ini kan sama seperti yang pernah saya tanyakan pas prajab!”. Saya coba mencari kebenaran berita tersebut. Sayangnya, ternyata berita tersebut masih dalam wacana. Ya sudahlah.

Baca lebih lanjut

Filsafat Ilmu (Review)

FI

sumber

Ilmu dimulai dari rasa ingin tahu. Kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu. Dan filsafat dimulai dari keduanya. Berfislasafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicarai telah kita jangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu ? bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu? Apakah kegunaan ilmu yang sebenarnya?

Baca lebih lanjut

99 Cahaya di Langit Eropa (Review)

cover-99for-web1

sumber

Apa yang Anda bayangkan jika mendengar “Eropa”? Eiffel? Colloseum? San Siro? Atau Tembok Berlin?

Bagi Hanum, Eropa adalah sejuta misteri tentang peradaban yang sangat luhur, perdaban keyakinannya, Islam.

Novel “99 Cahaya di Langit Eropa” ini bercerita tentang perjalanan sebuah “pencarian”. Pencarian 99 cahaya kesempurnaan yang pernah dipancarkan Islam di benua ini.

Dalam perjalanan tersebut, Hanum, sang penulis sekaligus tokoh utama dalam novel tersebut, bertemu orang-orang yang mengajarinya apa itu Islam rahmatan lil ‘alamain.

Buku ini ingin mengingatkan kepada pembaca bahwa dulu Islam sangat berkembang selama 12 abad. Kejayaan Islam bahkan hingga ke Eropa. Selama lebih dari seribu tahun itu, dunia dibuat takjub dengan ilmu pengetahuan dan peradaban yang sangat maju di negri-negri Islam. Sayang, mulai abad XIX kekhalifahan Islam mulai runtuh. Hingga akhirnya di tahun 1924 kekhalifanan Ottoman resmi membubarkan diri.

Walaupun sekarang Eropa bukanlah negara Islam, tapi sisa-sisa peradaban Islam masih banyak yang terjaga. Mulai dari Mezquita di Cordoba, Hagia Sophia di Turki, Kopi Capucino di Italia, Bunga Tulip di Belanda, hingga Axe Historique di Paris.  Jejak-jejak peradaban itulah yang coba dikumpulkan oleh penulis melalui perjalanannya bersama Rangga sang suami.

Selain itu, sang penulis ingin menyampaikan bahwa kehidupan di luar negeri dan interaksi dengan realitas sekulerisme jangan sampai membuat kita menjadi terbawa arus westernisasi. Bahkan dalam novel ini diceritakan bagaimana seorang Muslim mampu bertutur dan berpikir ‘out of the box’ tanpa mengurangi esensi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamain.

Selamat membaca!