Menerka Rumus Fisika

IMG-20171204-WA0012

Kalau pulang ke Lampung, biasanya saya akan mengajak Bunda dan Wafa jalan pagi ke Unila di hari minggu. Destinasi Unila dipilih karena minggu pagi akan sangat ramai dengan orang yang asik berolah raga. Selain itu banyak juga para penjual yang menjajakan makanan dan minuman. Jadi setelah jalan-jalan kami sekalian mencari sarapan.

Awal bulan kemarin kami jalan pagi melewati perpustakaan Unila. Lalu bermain di pelatarannya yang cukup luas. Tidak lupa mengambil foto bersama di depan gedung. Setelah itu saya jadi ingat kejadian waktu zaman SMA. Saya dan dua rekan lainnya, Bambang plus Zufrial, pernah mengikuti lomba LCT di gedung perpustakaan Unila. Lebih tepatnya LCT Fisika.

Bagi kami bertiga, ini merupakan perlombaan LCT yang ketiga. Mungkin secara mental kami tidak gugup. Tapi secara materi perlombaan kami tidak terlalu yakin. Pasalnya, saya lebih menguasai mata pelajaran matematika. Sedangkan dua teman saya lebih mahir dalam bidang Kimia. Fisika? Rasanya bukan mata pelajaran yang mudah untuk dijawab secara sederhana.

Meski demikian, kami terus belajar.Kami berlatih soal yang diberikan oleh para guru. Hasilnya? Alhamdulillah, kami berhasil menjadi juara satu. Plus juara umum yang mana pada tahun berikutnya lomba LCT ditiadakan. Sehingga piala juara umum tersebut tidak berpindah ke sekolah lain.

Yang menarik adalah waktu saat perlombaan, kami tidak benar-benar mengerti seluruh pertanyaan. Khususnya untuk pertanyaan yang menggunakan rumus yang njelimet. Maksudnya saya, rumus-rumus dalam fisika begitu banyak. Meski kami bertiga, tidak semua rumus-rumus itu bisa dihafal dengan mudah. Lalu bagaimana kami menjawab soal?

Jawabanya adalah dengan dimensi! Bukan dimensi ke tiga atau ke empat. Tapi, dalam fisika pasti ada satuan untuk setiap pengukuran. Dengan dimensi kami bisa menebak jawaban dari pertanyaan yang diberikan.

Misalnya, ketika ada pertanyaan yang diketahui tentang massa dan percepatan. Sedangkan yang ditanya adalah tentang gaya yang mana kita tahu bahwa satuan dari gaya adalah [M][L][T]-2. Untuk massa, dimensinya adalah [M] sedangkan percepatan adalah [L][T]-2. Jadi, Anda sudah bisa menebak kan bagaimana rumus untuk mencari gaya?  Yup, benar! Tinggal mengalikan saja antara massa dan percepatan atau F= m x a.

Tetapi, cara ini bukan tidak hanya ada kesalahan. Contoh soal jika kita mencari rumus tentang energi kinetik. Misalnya, pada soal diketahui tentang massa dan kecepatan. Dimensi dari energi adalah  [M][L] -2 [T]-2. Untuk massa, dimensinya adalah [M] sedangkan kecepatan adalah [L] -1 [T]-1. Dengan sederhana kita akan memperoleh rumus energi adalah massa dikali kuadrat dari kecepatan atau E = m x v2. Padahal kalau kita tengok ke rumus yang sebenarnya maka yang tepat adalah E =1/2 m x v2. Ada koefesien yang tidak kita ketahui dengan menggunakan cara menebak rumus dengan mencocokan dimensinya saja.

So, jangan terburu-buru menggunkan metode di atas. Perlu penelitian lebih lanjut yang lebih ilmiah. Tapi pada saat mengikuti lomba cepat tepat, Anda akan mengeri bahwa metode ini sangat berguna disaat kita tidak memiliki clue sama sekali tentang  pertanyaan yang diberikan. Selamat mencoba!

Iklan

Lima Bulan Wafa Nuruddin

IMG-20171204-WA0007

Hari ini anak pertama kami, Wafa Nuruddin, tepat berumur lima bulan. Sebagai orang tua, melihat perkembangan Wafa sangatlah cepat. Dari bayi merah yang awalnya merasa takut untuk memegang karena khawatir terlalu kuat dan kencang hingga sudah enak digoyang-goyang. Yang tadinya lebih sering ditaruh di tempat tidur sekarang lebih suka digendong dan jalan-jalan naik stroler.

Berat badan Wafa sudah mencapai 8 kilogram dengan tinggi hampir 70cm. Menurut grafik perkembangan anak versi WHO sih, kata pegawai posyandu, alhamdulillah normal. Mengukur perkembangan berat dan tinggi badan merupakan salah satu indikator sehat atau tidaknya bayi. Jangan sampai perkembangannya tinggi di awal tetapi surut di belakang. Atau malah sulit bertambah berat badan dan tingginya. Ini malah lebih bahaya lagi. Segera periksa ke dokter anak jika terjadi hal demikian.

Sayangnya, perkembangan Wafa selama lima bulan ini tidak bisa saya lihat secara langsung. Hal ini karena saya dan istri masih dalam status LDR. Biasanya saya pulang satu bulan sekali. Jika ada Dinas Luar maka akan saya sempatkan untuk menengok si buah hati. Dan pujaan hati juga, sih. Hehe

Untungnya dengan teknologi video call saya bisa melihat Wafa setiap hari. Meski memang rasanya sangat beda. Hanya melihat senyum dan tangisnya saja. Tidak bisa memeluk dan bercengkrama lewat sentuhan fisik.

By the way tentang video call, saya dan istri baru memutuskan untuk berkomunikasi menggunakan video call setelah wafa lahir. Sebelumnya kami hanya telponan atau whatsapp-an saja.

Bersiap MPASI

Lima bulan untuk Wafa berarti masa bersiap untuk step berikutnya: MPASI. Si Bunda sudah melakukan persiapan yang cukup matang. Mulai dari beli buku, peralatan, dan tanya-tanya sama rekannya yang sudah banyak pengalaman.

Biasanya MPASI dimulai ketika anak sudah berumur enam bulan. Hal ini disebabkan anak bayi mulai tumbuh gigi di usia tersebut. Tapi kalau giginya belum tumbuh tidak boleh dipaksa. Jadi, harus menyesuaikan kondisi bayi masing-masing.

Semoga tahun depan Wafa sudah mulai tumbuh gigi, ya nak!

 

Operasi Usus Buntu

Setelah rapelan datang, banyak yang minta traktiran. Salah satunya adalah kakak saya. Oke. Memang itu sudah semestinya saya lakukan. Tanpa disuruh sekalipun. Soalnya, sebelum hak-hak sebagai CPNS dibayarkan, beliau lah yang tiap bulan mengirimkan uang tambahan.

Untuk traktiran, tak banyak yang beliau minta. “Win, makan siang di Pizza H*t ya!”. Tapi karena siangnya saya sudah janji akan ngaterin Bembi ke Gramedia Matraman, saya minta waktunya diganti ke malam saja. Oke. Kakak saya pun menyetujuinya.

Pas malam, setelah solat maghrib, tiba-tiba kakak saya menelpon. “Win, besok Minggu aja ya. Perut kak Eko sakit. Kayak sembelit”. Lah, kok bisa? Ternyata siang tadi kakak saya makan batagor. Yasudah, acara di-cancle.

Besok Minggu si kakak nelpon lagi, “Win, sakitnya gak ilang-ilang. Kakak mau cek dulu ke rumah sakit. Makan-makannya ditunda dulu aja ya”. Akhirnya, acara ditunda dan kakak saya ke rumah sakit.

Jam sebelasan, ada telpon dari sebrang. “Win, kata dokter kakak kena usus buntu. Nanti sore mau dioperasi!”. Astaghfirullah. Saya kaget mendengar kabar tersebut. Sungguh, ini diluar dugaan. Awalanya cuma gara-gara makan batagor. Terus sembelit. Tiba-tiba divonis kena usus buntu. Semua serba mendadak.

Baca lebih lanjut