Definisi Cinta

Meski kata cinta sering kudengar atau bahkan kuucap, aku masih saja bingung ketika membahas apa itu cinta. Bukan karena aku tidak memiliki pengetahuan tentang cinta. Melainkan aku tidak tahu pasti apa definisi cinta yang sesungguhnya. Aku bisa saja mengutip pendapat para ahli agar bisa menjelaskan padamu arti cinta secara ilmiah. Atau mungkin menyitir ungkapan seorang penyair agar aku terlihat romantis di depanmu.
Namun, jika kamu masih tetap memintaku untuk menceritakan tentang cinta, aku hanya bisa menjelaskan satu hal. Bahwa bagiku, cinta kita ibarat menanam sebuah pohon. Pohon yang awalnya bermula dari sebuah biji kecil. Lalu kita rutin menyiramnya hingga ia mulai tumbuh. Tak lupa pohon itu kita beri pupuk agar ia menjadi subur. Apabila sudah membesar, kita buatkan pagar batasnya untuk menghalangi bintang yang ingin merusaknya. Jika sudah tampak buahnya, kita memanenya bersama. Buahnya kita nikmati sedikit saja. Selebihnya, kita bagikan ke tetangga dan orang-orang terdekat. Dan bila umur sang pohon telah habis, kita akan mengikhlaskannya untuk ditebang. Berharap batangnya menjadi kayu atau papan untuk bahan perabotan. Atau menjadi serpihan sebagai dasar pembuat buku bacaan.
Demikian definisi cinta yang kutahu. Tidak terkesan romantis apalagi berbau ilmiah. Aku harap, kamu memiliki definisi yang sama tentang arti cinta denganku. Paling tidak — jika ternyata kita berbeda dalam hal mendefiniskan cinta– kita memiliki tujuan yang sama ketika mengartikan cinta. Karena, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang diperjalanan, bukan?
Iklan

Mencoba Membuktikan Teori Six Degree of Separation

Dua bulan yang lalu, ada teman saya yang pergi ke Jepang. Dia pergi kesana bukan untuk jalan-jalan melihat Tokyo Dome atau mencari Death Note yang kebetulan terjatuh oleh Sinigami. Melainkan melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar doktoral. Saya senang sekali mendengar kabar tersebut karena teman saya ini bakal menjadi orang pertama dari anak-anak kelas SMA yang menulis namanya dengan embel-embel Ph.D. Meskipun di sisi lain saya akan sedih sebab di saat dia mengambil estiga saya masih berstatus lulusan diploma. Hiks.

Karena saat ini saya cuma bisa berangan-angan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, jadilah saya menulis artikel ini. Mungkin dengan menulis ini saya bisa meningkatkan h-index agar setara dengan pak haji ramad. Maka beruntunglah teman-teman yang membaca celotehan saya karena tidak akan kalian temui tulisan ini di jurnal-jurnal terindeks Scopus.

Baca lebih lanjut

Operasi Usus Buntu

Setelah rapelan datang, banyak yang minta traktiran. Salah satunya adalah kakak saya. Oke. Memang itu sudah semestinya saya lakukan. Tanpa disuruh sekalipun. Soalnya, sebelum hak-hak sebagai CPNS dibayarkan, beliau lah yang tiap bulan mengirimkan uang tambahan.

Untuk traktiran, tak banyak yang beliau minta. “Win, makan siang di Pizza H*t ya!”. Tapi karena siangnya saya sudah janji akan ngaterin Bembi ke Gramedia Matraman, saya minta waktunya diganti ke malam saja. Oke. Kakak saya pun menyetujuinya.

Pas malam, setelah solat maghrib, tiba-tiba kakak saya menelpon. “Win, besok Minggu aja ya. Perut kak Eko sakit. Kayak sembelit”. Lah, kok bisa? Ternyata siang tadi kakak saya makan batagor. Yasudah, acara di-cancle.

Besok Minggu si kakak nelpon lagi, “Win, sakitnya gak ilang-ilang. Kakak mau cek dulu ke rumah sakit. Makan-makannya ditunda dulu aja ya”. Akhirnya, acara ditunda dan kakak saya ke rumah sakit.

Jam sebelasan, ada telpon dari sebrang. “Win, kata dokter kakak kena usus buntu. Nanti sore mau dioperasi!”. Astaghfirullah. Saya kaget mendengar kabar tersebut. Sungguh, ini diluar dugaan. Awalanya cuma gara-gara makan batagor. Terus sembelit. Tiba-tiba divonis kena usus buntu. Semua serba mendadak.

Baca lebih lanjut

Sisa

Apa yang Anda rasakan bila melihat makanan prasmanan yang masih tersisa banyak, enak, dan masih dalam keadaan baik, dibuang?

Ceritanya, saya dulu pernah mendengar bahwa ada hotel yang ketika ada makanan yang tersisa maka makanan tersebut akan dikasih ke Yayasan Yatim Piatu. Hotel tersebut menganggap bahwa makanan itu masih dalam keadaan baik sehingga sayang untuk dibuang. Selain itu, hal tersebut merupakan suatu kegiatan sosial untuk sesama. Apalagi yang diberi adalah Yayasan Yatim Piatu. Pasti disana adalah orang-orang yang sangat membutuhkan.

Oleh karena itu, saya penasaran apakah hotel yang sering saya “kunjungi” ini memiliki “ritual” yang serupa. Apakah jika ada makanan yang sisa akan disalurkan ke lembaga sosial atau semacamnya. Dan sayangnya, jawaban yang diberikan sama seperti ekspektasi saya. Pegawai hotel tersebut berkata “wah, kalau disini langsung dibuang mas!”. Tuh kan dibuang -,-“. Itu memang sudah prosedur dari hotel, lanjutnya. Bahkan, pegawai hotel pun tidak boleh membawa pulang makanan tersebut. Jadi, kalau ada pegawai yang ingin menikmati “sisa” prasmanan tersebut satu-satunya jalan cuma makan di tempat. Jika masih sisa lagi: buang!

Tapi untungnya larangan membawa pulang makanan cuma berlaku ke pegawai. Kalau kita mau minta dibungkusin boleh. Asyik, asik! Beberapa kali saya meminta pegawai hotel untuk membungkus makanan yang sisa. Lumayan banyak lah. Isinya: nasi, ayam, ikan, dan sayur. Cukup untuk satu keluarga.

Setelah selesai membungkus, saya bingung sendiri. “Kemana harus saya salurkan ‘bungkusan’ ini?” Soalnya, makanan sisa tadi baru dibungkus sekitar jam 9 atau 10 malam. Sedangkan di jam tersebut orang-orang sudah pada makan dan sudah banyak yang tidur. Akhirnya, saya mencoba keluar. Mencari bila ada pengemis yang lewat di sekitar hotel. Untung ketemu! Langsung saya kasih saja bapak yang tidak saya kenal itu. Pernah juga, saya mencoba pergi ke bilangan Pasar Senen. Karena di sana memang sering terlihat orang masih beraktivitas pada waktu yang sudah malam itu.

Semoga saja nanti saya bisa menemui hotel di negeri ini yang memiliki “ritual” membagikan makanan “sisa”.

K.E.P.O.!

“Ren, tadi malam kau pergi kemana?”, kumulai ngator ku hari ini dengan mengajukan pertanyaan padamu.

Tapi, kau tak segera menjawab. Layar komputer berukuran 14 inchi itu belum bisa diganggu oleh pertanyaan retorisku.

Ah, aku tau sikapmu. Jika sedang fokus, kau memang tak bisa diusik. Bahkan, bila ada kebakaran sekalipun. Api menjalar ke semua ruangan dan kau jadi abu. Kemudian, barulah engkau tersadar.

Baca lebih lanjut

Les-mi-se-ra-bles?

Minggu siang, seorang lelaki berkaca mata tertarik dengan film Les Miserables. Cerita Film yang diangkat dari sebuah novel yang ditulis oleh Victor Hugo tahun 1862. Ia memutuskan untuk pergi ke XXI terdekat. Maka, berangkatlah ia ke sebuah mall di daerah Jakarta Utara.

Ketika sampai di loket, bertanyalah ia kepada seorang perumpuan paruh baya yang menjadi petugas. Dengan merendah ia bertanya

“Mbak, mau pesen tiket buat film Les Miserables (baca: Le misserab)”, aksen perancisnya lancar.

“Apa Mas?” , jawab petugas agak bingung

“Le misserab, mbak”, dengan nada tegas.

“Apa Mas?”, jawab sang petugas masih bingung.

Lelaki tersebut agak kesal. Dengan agak sedikit meninggikan suara ia berkata, “Le misserab, mbak!”

Mendengar kata “Le misserab, sang penjaga loket sebenarnya masih belum tahu film apa yang diinginkan oleh sang pelanggan. Hanya saja, ia sudah dua kali tidak mengerti. Dengan pedenya, akhirnya ia menjawab “Ooo. Les-mi-se-ra-bles? Ada mas!”, katanya dengan logat jawa medok.

Lelaki tersebut pun membelinya. Walaupun ada dua kekesalan disana: petugas yang bingung dengan aksen French-nya yang lancar dan ia harus menunggu hingga jam 8 malam karena jadwal siang dan sore penuh.