Mencoba Membuktikan Teori Six Degree of Separation

Dua bulan yang lalu, ada teman saya yang pergi ke Jepang. Dia pergi kesana bukan untuk jalan-jalan melihat Tokyo Dome atau mencari Death Note yang kebetulan terjatuh oleh Sinigami. Melainkan melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar doktoral. Saya senang sekali mendengar kabar tersebut karena teman saya ini bakal menjadi orang pertama dari anak-anak kelas SMA yang menulis namanya dengan embel-embel Ph.D. Meskipun di sisi lain saya akan sedih sebab di saat dia mengambil estiga saya masih berstatus lulusan diploma. Hiks.

Karena saat ini saya cuma bisa berangan-angan untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, jadilah saya menulis artikel ini. Mungkin dengan menulis ini saya bisa meningkatkan h-index agar setara dengan pak haji ramad. Maka beruntunglah teman-teman yang membaca celotehan saya karena tidak akan kalian temui tulisan ini di jurnal-jurnal terindeks Scopus.

Six Degree of Separation

 

Pernah mendengar lagunya The Script yang judulnya Six Degree of Separation? Ah, kalian paling hafalnya cuma yang “The man who cant be moved” aja kan?  Sama kok, saya juga begitu. Tapi bukan tentang lagu yang ingin saya bahas melainkan tentang teorinya. Kebetulan nama teorinya sama dengan judul lagu.

Six Degree of Separation. Biar mudah kita singkat SDS aja ya. Saya pertama kali dengar istilah SDS dari Mas Thalib. Waktu masih jaman kuliah dulu dia memberi tahu saya bahwa di dunia ini ada teori yang mengatakan bahwa seseorang bisa masuk dalam suatu ikatan pertemanan maksimal dalam enam tingkat. Rantai ikatan tersebut maksudnya adalah hubungan pertemanan kita ke temannya terus ke temannya lagi sampai enam tingkat. Jadi, X1 adalah teman X2, dimana X2 adalah teman dari X3, terus hingga sampai X7. Ketika X1 bisa mencapai pertemanan sampai X7, masuklah ia dalam kateogri Six Degree of Seperation.

Awalnya, saya menganggap teori ini mungkin sulit terpenuhi. Mengapa? Karena tak mudah rasanya mencapai pertemanan oleh si X1 dapat mencapai X7 meskipun koneksi jaringan bisnis dan pertemanan sangat bisa membangun suatu network yang bertantai panjang. Dukungan teknologi yang sekarang ini  mungkin membantu memperoleh banyak teman. Tapi membentuk rantai X1 hingga X7 itu sulit. Mungkin X1 berteman hingga ke X5. Tapi di X5 temannya bukan X6, melainkan Y1 atau Z1. Jadi permutasi pertemanan tidak bakal urut.

Belakangan, saya merasa teori SDS ini bisa dicapai. Caranya? Ganti poros subjek menjadi di tengah. Selama ini saya mencari hubungan dari X1 ke X7 yang nyata-nyata memerlukan enam tingkat. Karena jarak rantai pertemanan terlalu jauh maka saya merasa sulit menemukan pembuktian teori ini. Tetapi kalau mencarinya lewat sudut pandang lain akan lebih mudah.

Berawal dari negri kicir angin

Perubahan sudut pandang ini terinspirasi dari percakapan via BBM dengan teman dimana di punya teman yang kuliah di Belanda. Kebetulan saya juga punya teman yang kuliah disana dan mendapat beasiswa yang sama-sama berasal dari Kemenkeu. Lalu saya berpikir bahwa jika saya menghubungkan teman saya dan temannya ini maka akan saya dapati tiga tingkat. Dan apabila ada dua teman lagi dibawahnya, dengan mudah saya bisa membuktikan teori SDS.

Ketika kita mengganti poros subjek menjadi di tengah maka jarak rantai pertemanan seolah menjadi pendek. Lihat bahwa, pertemanan X4 ke X1 itu butuh tiga tingkat. Begitu pula X4 ke X7 ada tiga tingkat juga yang perlu dilalui. Untuk mempermudah maka kita bagi menjadi dua kelompok A dan B. Pertama, kelompok A dimana X4 punya teman X3, X3 berteman dengan X2, dan X2 adalah teman dari X1. Kedua, kelompok B dimana X4 punya teman X5, X5 berteman dengan X6, dan X6 adalah teman dari X7. Ketika kedua kelompok A dan B digabung, maka mata rantai enam tingkat mudah terbentuk.

Apabila teori SDS ini dibawa dalam kehidupan sehari-hari, maka akan kita jumpai ada seseorang (X4) yang mengatakan kepada temannya (X3)  bahwa dia memiliki teman (X5) dimana temannya (X7) dari temannya teman ini (X6) begini dan begitu. Meskipun, kata penghubung-teman paling sering kita jumpai untuk dua tingkat saja. Kita lebih sering mendengar “temannya teman kita” dibandingkan “temannya dari temannya teman kita”.  Hal ini disebabkan karena makin jauh tingkat pertemanan maka hubungan pertemanan kita pun diragukan. Akan menjadi tidak enak kan jika X4 bilang ke X3 bahwa dia memliki teman (X5) dimana temannya (X10) dari temannya teman teman teman teman begini dan begitu. Kita akan kehilangan konteks rantai pertemanan karena hubungan antar teman semakin jauh maka semakin hambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s