Pesona Metro Mini

Bulan Maret tahun kemarin, saya resmi magang di Ditjen Perbendaharaan. Bersama seratus teman-teman yang lain, kami dimagangkan di Jakarta. Dan sekarang sudah memasuki bulan Mei 2013. Berarti, tak terasa sudah satu tahun lebih menjadi warga ibu kota. Dan masih berstatus pegawai magang!

Di antara hal yang membosankan berkesan selama setahun di Jakarta adalah pulang-pergi kosan-kantor naik Metro Mini. Metro Mini (MM) merupakan perusahaan bus yang beroperasional di sini. Trayek perjalanannya banyak. Hampir di setiap sudut kota ada. Kalau Anda sering ke Jakarta pasti bakal sering lihat.

Saya menggunakan jasa Bus MM karena rutenya melewati kantor. Jadi, cuma sekali jalan saja kalau dari kosan. FYI, kosan saya terletak di daerah Galur. Tepat di belakang Kampus Pascasarjana STIAMI.

Saya biasa berangkat ke kantor pagi-pagi. Jika berangkat dari kosan masih pagi -sebelum pukul  07.00- maka kemungkinan perjalanannya cuma memakan waktu 20 hingga 30 menit. Tapi kalau sudah lewat jam 7 pagi, maka bersiaplah untuk menghadapi kemacetan kota Jakarta. Bila macetnya gak ketulungan, saya  bisa manyun di jalan sampai 1 jam.

Macet merupakan hal yang biasa di kota ini. Di awal-awal menjadi warga Jakarta, saya sering kesal. Tak jarang saya mengumpat dalam hati. Menyalahkan para pengguna jalan yang ugal-ugalan. Atau kendaraan yang berhenti di tengah jalan. Entah karena memang mogok. Entah karena sang pengemudi sedang keluar. Memarahi pengguna jalan lain yang ‘menyenggol’ kendaraannya.

Hambatan dalam perjalanan selain macet juga banyak. Misalnya pas lagi di jalan mesti terhenti karena harus mendahulukan kereta api. Kalau di Lampung, kereta yang lewat mah cuma satu. Tapi kalau di Jakarta, kita mesti menunggu beberapa kereta lewat ketika berhenti. Jadi rada lama menunggu kereta berhembus. Dan yang paling gak enak menurut saya kalau menunggu kereta lewat itu kalau kereta yang lewat cuma kepalanya doang. Hanya satu gerbang saja. Tapi nunggunya lama. Huft!

Selain hambatan yang disebabkan oleh faktor eksternal di atas, ada hambatan perjalanan yang disebabkan oleh faktor internal. Selama saya menaiki bus MM ada dua faktor internal penghambat perjalanan yang saya temui. Pertama adalah masalah bus yang ngetem. Bisa pas di terminal atau di tempat-tempat yang banyak penumpang sering menunggu. Ini termasuk hal yang sering saya temui. Khususnya ketika malam hari. Karena penumpangnya memang tidak sebanyak siang; lebih sedikit. Tak dapat dipungkiri bahwa sang sopir akan mengefektifkan perjalanan mereka dengan memperbanyak penumpang. Sehingga menunggu penumpang agar penuh dahulu baru berangkat adalah metode yang lumayan ampuh. Walaupun tidak setiap kali bus ngetem pasti akan penuh. Setidaknya  ongkos penumpang yang terbatas bisa menutupi pengeluaran bensin.

Yang kedua adalah bus yang menurunkan penumpang di tengah jalan. Jadi, pas lagi asik duduk di bus tiba-tiba sang supir atau kondekturnya bilang ke semua penumpang “Turun. Turun. Turun! Pindah ke bus sebelah!”. Sungguh, menyeballkan. Sangat tidak profesional sama sekali. Para penumpang yang sedang menikmati perjalanannya –bahkan ada yang sedang tertidur– tiba-tiba diturunkan dari bus dan mesti pindah ke bus sebelah. Padahal sang penumpang biasanya sudah membayar. Tapi masih saja diturunkan.

Kalau saya lihat, bus yang menurunkan di tengah jalan itu disebabkan penumpangnya tidak terlalu penuh. Padahal di jam-jam tersebut banyak orang yang sedang menunggu bus. Jadi, sang sopir berpikir bahwa seharusnya bus yang dibawanya penuh dengan penumpang. Tidak mau rugi, maka mereka akan menurunkan penumpang yang ada. Kemudian memutar balikkan bus ke tempat para calon penumpang yang sedang menunggu di pinggir jalan.

Jika ditunjau dari segi untung rugi memang dengan menurunkan penumpang di tengah jalan dan mengambil penumpang yang lebih banyak memang menguntungkan. Tapi sayangnya, sang sopir dan kondektur itu tidak memikirkan hati sang penumpang. Sepertinya, mereka perlu di training tentang service excelent.

Begitulah kenangan setahun ini bersama bus MM. Walaupun banyak hal negatif ketika menaikinya, tidak sedikit hal positifnya. Yang jelas, hingga saat ini pulang dan pergi kantor-kosan saya masih menggunkan jasa bus ini. Selamat mencoba bus MM!

3 thoughts on “Pesona Metro Mini

  1. metro mini… di sana malem2 abis mudik dari kampung dan kembali ke Jekardah (dari Senen tepatnya) dan juga sekitar daerah Galur itulah terjadi kejadian ilang HP huhuhu…

    dan metro mini… sensasi selalu seperti roller coaster hohoho

  2. Ping-balik: Klinik Thesis | Kasus Pelanggaran Etika dalam Proses Distribusi: Supir Angkutan Umum Menurunkan Penumpang di Tengah Perjalanan dan Juga di Tengah Jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s