Operasi Usus Buntu

Setelah rapelan datang, banyak yang minta traktiran. Salah satunya adalah kakak saya. Oke. Memang itu sudah semestinya saya lakukan. Tanpa disuruh sekalipun. Soalnya, sebelum hak-hak sebagai CPNS dibayarkan, beliau lah yang tiap bulan mengirimkan uang tambahan.

Untuk traktiran, tak banyak yang beliau minta. “Win, makan siang di Pizza H*t ya!”. Tapi karena siangnya saya sudah janji akan ngaterin Bembi ke Gramedia Matraman, saya minta waktunya diganti ke malam saja. Oke. Kakak saya pun menyetujuinya.

Pas malam, setelah solat maghrib, tiba-tiba kakak saya menelpon. “Win, besok Minggu aja ya. Perut kak Eko sakit. Kayak sembelit”. Lah, kok bisa? Ternyata siang tadi kakak saya makan batagor. Yasudah, acara di-cancle.

Besok Minggu si kakak nelpon lagi, “Win, sakitnya gak ilang-ilang. Kakak mau cek dulu ke rumah sakit. Makan-makannya ditunda dulu aja ya”. Akhirnya, acara ditunda dan kakak saya ke rumah sakit.

Jam sebelasan, ada telpon dari sebrang. “Win, kata dokter kakak kena usus buntu. Nanti sore mau dioperasi!”. Astaghfirullah. Saya kaget mendengar kabar tersebut. Sungguh, ini diluar dugaan. Awalanya cuma gara-gara makan batagor. Terus sembelit. Tiba-tiba divonis kena usus buntu. Semua serba mendadak.

Walaupun sebenarnya operasi usus buntu bisa dibilang operasi kecil. Tingkat keberhasilannya pun tinggi. Sehingga secara hitung-hitungan akan sembuh dengan mudah. Namun, karena kasus ini diluar dari yang saya prediksikan, jadilah pada momen tersebut saya jadi was-was.

Saya pun meluncur ke Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta. RS Pelabuhan Jakarta terletak di Jakarta Utara, sebelah Islamic Center Jakarta. FYI, Islamic Center ini dulunya bekas tempat prostitusi loh!

Pas sampai di TKP, kakak sudah di atas kasur. Badannya lemas. Mungkin karena perutnya sakit. Dan juga karena puasa. Kan kalau mau operasi, pasien harus berpuasa sekitar 8 jam. Padahal paginya si kakak belum makan nasi. Cuma makan bubur kacang hijau. Semacam tak ada persiapan gitu. Jadilah kakak saya menggerutu “Mending operasinya besok aja. Biar kakak bisa makan enak dulu. Baru operasi”

Tapi pihak rumah sakit tetap kekeuh operasinya dilakukan sore ini. Jam lima sore kami tunggu. Ternyata dokternya belum datang. Jam enam. Jam tujuh. Nah, jam tujuh malam dokternya datang.

Kakak disuruh lepas pakaian dan diminta memakai ‘baju hijau’ yang biasa digunakan untuk operasi. Kemudian dibawa ke ruang operasi. Saya cuma bisa menunggu dari luar.

Di luar saya cuma bisa duduk dan berdoa sambil melirik jam. Jam berapa kakak keluar ruangan? Biasanya operasi kecil seperti ini cuma satu jam. Tapi setelah operasi kan belum bisa langsung keluar. Mesti disterilisasi dulu. Jadilah jam 22.30 kakak kembali ke ruang inap.

Setelah tiba di kamar, saya langsung ajak ngobrol si kakak. Gimana rasanya? Sakit gak? “Ya jelas sakit lah Win!”. Haha. Tapi kakak saya ini sudah pengalaman operasi. Jadi dari awal emang sudah berani.

Waktu kelas 3 SD dulu kakak saya pernah operasi tumor jinak. Ada daging tumbuh di bagian perut sebelah kanan. Besarnya seperti bakso. Bakso kecil ya. Bukan bakso ukuran super. Dan sekarang usus buntu. Pas disebelah kiri. Di kanan pernah, di kiri juga ada. Sekarang jadi balance .

Kakak bercerita bahwa ada pengalaman yang menarik waktu dioperasi. Karena usus buntu cuma operasi kecil maka biusnya cuma bius spinal. Orang-orang biasa menyebutnya bius lokal. Dari perut ke bawah. Bagian atasnya tidak.

Oleh karena itu pada saat dioperasi pasien dalam kondisi sadar. Kakak saya ingin melihat proses operasinya. Tapi sayang, ada pembatas yang ditaruh di bagian atas perut. Sehingga menghalangi bagian yang dioperasi dokter. Tapi ia tidak menyerah. Kakak mencoba cara lain. Dia melihat ke atas. Ke lampu-lampu LED yang membantu dokter dalam pencahayaan. Ternyata di antara LED-LED itu ada kaca. Kaca yang memang dipasang untuk memantulkan sinar. Maka, ia bisa melihat bagaimana proses operasi dari situ. Walaupun tidak kelihatan begitu jelas.

Habis operasi kakak mesti dirawat inap di rumah sakit. Setelah dirawat selama lima hari, Kamis kemarin dokter mengizinkan kakak saya pulang. Alhamdulillah.

9 thoughts on “Operasi Usus Buntu

  1. q mau tanya kmqrin aq d aganosa usus buntu bisa di blang udh parah dan dianjurkan srcepat nya dioprasi.kira kira biaya opetasi usus buntu berapa ya,Trs proses pemulihanya brpa hari sampai sembuh total . . . . . .????Dan apakah setelah operasi sipasien kalau kencing harus diselang????tq

    • kemaren kakak saya biayanya di cover sama perusahaan. tapi kalo ndak salah sih hampir 4 juta

      proses pemulihannya
      hari 1-4 di rumah sakit
      2 minggu kemudian bisa berobat jalan, tapi tidak ada kegiatan yang berat
      setelahnya sudah boleh

      untuk buang air kecil pas awal2 memang pakai ureter (selang) tapi cuma beberapa hari aja kok

      • apkah biaya operasinya bervariasi atau srtiap Rs berbeda misal rs kecil d surabaya sama dijakarta apa ada perbedaan biaya,and maksudnya berobat jalan itu kita di harus kan check up kerumahsakit sesuai yang dokter anjurkan apa kita cuma istirahat dirumah sambil mum obat….terimakasih udah meluangkan waktu sebentar buat bales pertanyaanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s