Hati Tiga Dimensi

hati 3 dimensi

 

sumber

Potongan Pertama

Mesin absen kantor sudah tak finger print lagi. Sekarang mesti berpindah ke hand key. Kayak pegawai beneran. Sayangnya, walau SK sudah keluar dan sudah hand key, tetap saja statusnya belum ditanggalkan. Tapi tak mengapa. Apalah arti sebuah nama, kata William Shakespeare. Yang penting substansinya. Untuk hal tertentu saya setuju. Dan dalam hal  ini salah satunya.

Tentang pekerjaan pun ternyata juga sama. Substance over form.  Seorang anak magang itu, nasihat pak Adi, sama seperti sepuluh orang pegawai! Mungkin nasihat itu terlontar manakala beliau selesai membaca potongan ayat di surat Al-Anfal. Bahwa, seorang yang sabar bisa menang dalam peperangan melawan sepuluh orang musuh. Bahkan, di ayat sebelumnya, seorang mujahid yang sabar itu setara dengan seratus orang. Luar biasa bukan?

Semangat itu coba saya manifestasikan di dalam bekerja. Mencoba mengikuti irama sebagai seorang pegawai kantor pusat. Pergi pagi pulang malam. Walau pas malam sebenarnya tak ada pekerjaan yang harus dilemburkan. Inilah atmosfer kantor ibu kota, Bung. Atau mungkin, begini lebih tepatnya: menghindari macet dan menikmati koneksi internet gratis plus ruangan ber-AC.

Potongan Kedua

Tak setiap saat kantor punya pekerjaan. Ada kalanya waktu kosong. Saya coba keliling kantor. Cari inspirasi. Supaya gak terlalu sumpek di ruangan.

Ternyata, di antara tempat-tempat itu, perpustakaan di kantor yang paling  menarik perhatian. Dari pada waktu kosong terbuang lebih baik coba melipir ke sana. Lumayan ada tambahan pengetahuan.

Awalnya cuma iseng. Lama-kelamaan makin banyak yang dipinjam. Saya coba juga mampir ke seberang. Katanya lebih lengkap koleksi bukunya. Tempat bacanya juga lebih enak.

Ruang baca di seberang memang lebih bagus dan lebih nyaman. Maklum, satu gedung dengan tempat kerja pak Menteri. Saya coba selusuri beberapa buku. Mencari referensi yang saya butuhkan. Bingo! Langsung saya ambil dan minta izin untuk dibawa pulang. Tapi kata masnya yang jaga mesti daftar dulu. Oke. Saya resmi jadi anggota.

Potongan Ketiga

Belakangan saya mulai bersebrangan pendapat dengan William Shakespeare. Ternyata, pengakuan atas sebuah nama itu perlu. Sangat perlu malah.

Tanpa status itu banyak kerjaan yang datang. Entah dari mana dan oleh siapa. Tempat duduk saya mulai jadi incaran. Seperti pusat pengaduan. Padahal saya masuk ke stream yang jelas. Saya pun sudah punya mentor sebagai pengganti kepala seksi. Beliau yang seperti atasan saja tak sekehendak hati ketika memberi pekerjaan. Tapi ya mau gimana lagi. Sepertinya memang sudah jadi konsekuensi. Selain karena status yang belum ditanggalkan itu. Posisi memang menentukan ‘prestasi’.

2 thoughts on “Hati Tiga Dimensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s