Panic Strategy

Tugas-tugas kian menumpuk. Sedangkan waktu terbatas, tak dapat ditambah. Deadline kian menjemput. Di saat seperti ini biasanya yang  muncul adalah tindakan-tindakan negatif: pikiran terbebani, hati jadi sumpek, dan ide kreatif pun mampet.

Maka, exit strategy yang muncul bukanlah the great idea melainkan panic strategy. Yang penting selesai. Entah benar  atau salah. Entah mau baik atau buruk. Entah indah atau jelek. Satu persatu deadline mesti kelar. Biar pundak ini semakin ringan. Makin enjoy lah kaki melangkah.

Yang lucu, jika para atasan ternyata melakukan panic strategy. Maka, untuk pekerjaan yang mesti cepat diselesaikan maka atasan akan menyuruh bawahan untuk menyelesaikannya. Anehnya, pekerjaan itu tidak dilimpahkan oleh satu orang. Biasanya –minimal– dua orang. Jadi, satu pekerjaan, dua problem solver.

Apakah semua hasil pekerjaan akan diterima? Iya. Namun, yang pertama menyelesaikan pekerjaan itulah yang benar-benar diterima. Sedangkan yang kedua dan seterusnya hanya jadi pajangan saja: tetap diterima tetapi tanpa pemberitahuan bahwa sudah ada orang lain yang mengerjakan.

Belakangan, terbongkarlah panic strategy yang aneh ini. Sekarang, jika ada pekerjaan dari atasan, mereka setuju tidak akan langsung mengerjakan. Jadilah para bawahan akan bertanya dulu kepada rekan-rekannya yang lain apakah sudah ditugaskan pekerjaan yang sama. Jika belum, maka “siap, laksanakan!”. Karena sang problem solver cuma satu. Tapi jika sudah, maka tak usahlah dihiraukan. Lebih baik cari pekerjaan yang lain. Membuang waktu saja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s