Membangun usaha di Wahidin Raya?

Di dekat kantor, ada jalan yang namanya Wahidin II. Di sepanjang jalan tersebut banyak berdiri kios-kios kecil. Usahanya macam-macam. Ada yang rumah makan, fotocopy, jual majalah, dan lain-lain. Namun, yang paling banyak adalah rumah makan. Jadilah para pegawai yang ada disekitar Lapangan Banteng banyak yang pergi kesana ketika jam makan siang. Dan saya salah satunya.

Pas tadi makan siang, saya melihat ada sedikit space yang kosong di beberapa titik jalan Wahidin II itu. Tanpa dikomando, pikiran saya langsung berkata, “Wah, bagus neh kalau buka warung disini.” Lintasan pikiran itu, sepertinya muncul karena dua hal. Pertama, termotivasi untuk buat usaha setelah mengikuti pameran wirausaha beberapa waktu belakangan ini. (lengkapnya, bisa dilihat di sini). Kedua, saya memang ada keinginan untuk membuka rumah makan Jepang. Ini disebabkan oleh saya yang memang suka makanan Jepang (walau gak semuanya) dan pernah berencana buat rumah makan Jepang bareng Bemz karena punya selera yang sama.

Lebih lanjut, saya melihat bahwa Jalan Wahidin II ini sangat strategis. Setiap hari kerja, orang-orang yang bekerja di sekitar Lapangan Banteng berdatangan kesana untuk makan siang. Walaupun ada rumah makan ditempat lain, di sepanjang Jalan Wahidin II selalu ramai dikunjungi saat waktu zuhur. Selain itu dekat dengan kantor. Sehingga, ada kemungkinan kalau kita buka warung makan dan menang ketika tender katering bisa memasok makan siang di kantor untuk acara rapat atau yang lainnya. Apalagi ini kan warung makan Jepang. Di situ belum ada pesaingnya. Jadi bisa monopoli di-genre-nya.

Untuk memenuhi hasrat penasaran di atas, saya akhirnya bertanya sedikit tentang harga kios. Berikut cuplikan percakapan saya(w) dan penjaga warung (a)

W: Bang, kios ini beli atau sewa?

A: Wah, lapak (abangnya gak sebut kios) kalau disepanjang jalan sini mah nyewa semua dek

W: ooo. Nyewa sama siapa bang?

A: Nyewa sama Pemda DKI

W: Sebulan berapa?

A: Bayarnya gak perbulan, tapi pertahun. Ini hitungan lapaknya 75ribu per 2×2 meter persegi. Saya ini nyewa 4 lapak. Jadi 300ribu.

W: Jadi perbulan 300 ribu?

A: Bukan dek, 300 ribu itu per tahun! Tapi ini cuma hak guna aja. Semisal pemdanya minta digusur, ya terpaksa kita pindah.

W: Wah, murah amat bang 300 ribu per tahun.

A: Selain itu, ada iurannya.

W: Iuran ke siapa?

A: Iuran ke Pemda dek. Jadi, perhari kita ditarikin karcis 12 ribu per lapak.

W: Itu pas kerja aja ya pak?

A: Iya, pas dagang aja. Kalo pas libur enggak ditarikin.

Begitulah kira-kira percakapan saya barusan dengan penjaga warung. Kalau dihitung lebih rinci. berarti biaya lapak perbulannya adalah 300ribu : 12 = 25 ribu. Sedangkan biaya karcisnya adalah 240 ribu per bulan. Asumsi seminggu 5 hari kerja dan sebulan 4 minggu. Sehingga total biaya bulanannya cuma 275 ribu saja. Untuk ukuran biaya hidup di Jakarta, menurut saya, sangat murah.

Untuk biaya lainnya saya tidak cantumkan disini. Soalnya saya belum mengecek apa saja yang perlu dibangun dan dibeli serta berapa harganya. Selain itu, kalau saya cantumkan business plan-nya secara lengkap disini, ntar malah ada yang ngopi lagi. Terus malah dia yang mendirikan usaha disana.😀 #kidding

3 thoughts on “Membangun usaha di Wahidin Raya?

  1. “Kedua, saya memang ada keinginan untuk membuka rumah makan Jepang. Ini disebabkan oleh saya yang memang suka makanan Jepang (walau gak semuanya) dan pernah berencana buat rumah makan Jepang bareng Bemz karena punya selera yang sama.”

    Ternyata selera kalian internasional, akhi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s