Menuju Pekalongan: Dari Tragedi Kebakaran Hingga Insiden Ketinggalan Bus

Gambar

Dalam kurun waktu empat bulan terakhir, saya sudah empat kali ke Pekalongan. Entahlah, kenapa banyak acara di kota Batik ini. Tiga di antaranya adalah undangan pernikahan, sedangkan satu lainnya adalah undangan “luar biasa”. Dan, cerita ke Pekalongan untuk menghadiri undangan pernikahan kali ini sepertinya paling epik.

Ketika Negara Api Menyerang

Rabu sore saya terpaksa PSW. Walau tiket busnya jam 18.30, saya pulang duluan karena harus ke kosan: persiapan. Setelah izin ke mentor, saya langsung keluar ruangan. Di luar, hujan gerimis yang sudah ada sejak jam tiga sore masih setia hingga jam empat. Tanpa perlindungan apapun, terpaksa saya terabas saja.

Sesampainya di kosan, saya mulai mengambil barang-barang yang diperlukan. Saya sempatkan mandi sore biar wangi. Tidak lupa juga saya “sempatkan” untuk mencuci pakaian dan sendal serta menyetrika. Hingga akhirnya jam setengah enam baru selesai semua kerjaan itu semua. Hufh!

Kemudian saya keluar dan menunggu bus. Tujuan saya adalah Jatibunder. Dari kosan, Jatibunder mesti dilalui dengan naik bus Mayasari ke Tanah Abang. Dilanjutkan jalan kaki atau naik ojek ke Jatibunder.

Sampai di Jatibunder waktu sudah menunjukan jam 18.45. Wah, telat! Saya langsung menelpon Pamulak, teman yang akan menemani saya ke Pekalongan. “Belum berangkat kok win”, ujarnya. Yeah, Alhamdulillah!

Ternyata Pamulak yang baru saja saya telpon ada di seberang jalan. Karena sudah malam dan cahaya jalan tidak terlalu terang jadi tak kelihatan. Tak lama kemudian Pamulak menghampiri saya.

Kami bercakap-cakap sebentar. Lalu ia mengajak makan dulu sambil menunggu bus. Karena saya sudah makan sebelumnya dan pertu juga masih kenyang saya hanya menemani saja. Sebuah warteg menjadi pilihan Pamulak pada malam itu.

Pamulak memesan nasi putih, telur dadar, dan tahu. Dengan sedikit kuah sayur labu melengkapi kenikmatan makan malamnya itu. Tapi sayang, di tengah asyiknya menikmati makan malam, seorang pegawai warteg menuju keluar. “Ada kebakaran, kebakaran!”

Sejenak saya dan Pamulak hanya diam. Lalu kami bertatapan. Tanpa suara. Tetiba kami panik. Keluar. Ada kebakaran?!

Dari luar kami melihat ada asap. Masih sedikit. Apinya pun masih kecil. Tapi tak lama kemudian merambat. Menjalar. Memakan setiap bagian warteg. Dari lantai dua lalu lantai bawah. Tidak hanya ke bawah, si jago merah memakan sisi kanan dan sisi kiri.

Sebagian orang buru-buru berpencar untuk mengambil air. Air mineral. Air comberan. Air sumur. Air ledeng. Pokoknya air. Walaupun harus mengambil dari rumah orang lain.

Sebagian orang lagi cuma bisa jadi penonton. Tapi tidak ada sorai-sorai. Tanpa suara. Cuma bisa mematung. Beridiri melihat api yang semakin membesar dengan mulut menganga. Sayangnya, saya dan Pamulak termasuk golongan ini.

“Win, cepet hubungi pemadang kebarakan!”

Tanpa dikomando, saya memencet nomor yang diberikan Pamulak.

“Maaf, nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan”, begitu jawaban dari seberang.

“Pamz, pake 021 apa enggak?”, tanya saya kepada Pamulak untuk memastikan bahwa nomor yang dihubungi telah benar.

“Iya, pake kok!”

Saya hubungi lagi. Tidak masuk. Hubungi lagi. Dan masih tidak bisa nyambung. Haduh, ayo dong nyambung!

Sayangnya, tetap saja tidak ada jawaban. Saya cuma bisa pasrah melihat api yang semakin berkobar. Orang-orang yang berusaha memadamkan api belum menunjukan hasil yang positif. Beberapa pemilik ruko yang melihat api mulai menjalar ke rumah mereka mulai panik juga. Sebagian masuk ke dalam ruko dan mulai mengambil barang-barang yang bisa diselamatkan.

Tak lama kemudian mobil pemadam kebakaran datang. Alhamdulillah, bala bantuan mulai ada. Dengan cepat petugas pemadam kebakaran menjulurkan selang. Saya lihat ada dua selang. Satu selang dipegang petugas. Yang satu lagi dipegang warga.

Dengan cepat air mengalir dari selang yang besar itu. Selang yang dipegang oleh petugas bisa dikendalikan dengan baik. Sedangkan selang yang dipegang oleh warga saya perhatikan kurang bisa dikontrol. Entah karena warga yang saling berebut. Atau sebab tekanan air yang begitu besar sehingga sulit dikendalikan.

Api semakin membesar dengan dorongan angin yang kencang pada malam itu. Tanpa malu sang api memakan ruko tetangga. Merahnya semakin besar. Semakin banyak pula asap-asap yang dihasilkan. Serta semakin sulit untuk memadamkan apinya. Walaupun sudah dibantuk dengan satu mobil pemadam kebakaran yang datang tak lama kemudian.

Di sisi lain, saya dan Pamulak masih saja di tempat. Tidak ada melakukan apa-apa. Kecuali melihat detik tiap detik proses kebakaran yang semakin mengkhawatirkan itu.

Adanya kebakaran membuat warga di sekitar berdatangan. Banyak warga yang mengerubungi TKP. Tapi datangnya warga tidak menimbulkan manfaat. Mereka sama seperti kami: “menikmati” kebakaran. Bahkan banyak yang mengabadikannya melalui ponsel mereka. Mungkin mau dijual ke tivi kali ya, sebagai video amatir.

Melihat banyaknya orang dan tidak membantu orang-orang yang sedang bersusah payah memadamkan api, ada warga yang marah. Seorang pemuda sambil memegang bambu mendatangi orang-orang yang berkumpul dan cuma melihat tanpa membantu para korban. “Woi, bantuin! Jangan ngeliatin aja!”, katanya dengan nada tinggi.

Orang-orang yang sedang berkumpul langsung berpencar seketika. Pergi jauh-jauh. Khawatir dipukul dengan bambu yang ia pegang.

Satu jam lebih telah berlalu. Dan api pun belum padam. Padahal sudah ada tiga tambahan mobil pemadam kebakaran yang kecil. Entahlah, saya tidak tahu jenis mobil tersebut. Yang jelas, kalau mobil yang kecil ini tidak membawa persediaan air. Beda dengan yang jenis besar. Mobil kebakaran yang kecil ini cuma punya selang. Tapi panjang. Selang itu kemudian mencari sumber air yang entah dari mana terhubungnya. Jika sudah dapat sumber airnya baru kemudian bisa digunakan.

Jam sembilan malam, saya dan Pamulak meninggalkan TKP. Bus yang kami tunggu ternyata sudah ngetem di dekat KPP Kebun Jeruk Dua. Mereka beralhir kesana karena di Jatibunder tidak bisa dilalui.

Belakangan saya baru tahu kalau api padam sekita setengah jam kemudian seperti diberitakan di sini.

Edisi Ketinggalan Bus

Baru kali ini saya naik bus ke Pekalongan tidak dengan perasaan yang bahagia. Kejadian kebakaran yang baru saja kami alami membuat kami terpukul. Terpukul karena tidak bisa membantu warga. Terpukul karena banyak warga yang menjadi korban. Dan terpukul karena Pamulak ternyata belum sempat membayar makanan telah dihabiskannya.

By the way, bicara tentang kebakaran, sebenarnya secara teori api terbuat dari tiga unsur: panas, oksigen, dan bahan bakar. Jika kita bisa memisahkan satu diantaranya saja maka api bisa padam.  Misalnya pemadam kebakaran yang menyiram dengan air untuk menghilangkan panas. Atau kita dapat menyemprotkan gas untuk memisahkan oksigennya. Atau dalam kasus yang saya alami beberapa orang memukul bagian rumahnya dengan bambu agar kayunya tidak “dimakan” oleh api yang ada. Sehingga ia akan kehilangan bahan bakarnya.

Belum cukup tragedi kebakaran, ternyata ada tragedi yang lain: ketinggalan bus. Ceritanya, saat di daerah Brebes, bus yang kami naiki mampir di SPBU. Saya yang kebelet buang air kecil lalu minta izin kepada pak sopir untuk ke kamar kecil.

Setelah selesai, saya melihat jam kalau sekarang jam 5 pagi. Saya menganggap sudah masuk solat subuh. Dengan santainya saya menuju mushola. Mengambil wudhu lalu solat subuh. Setelah selesai saya bergegas kembali ke bus. Tinggal 10 meter lagi sampai ke bus, ternyata bus sudah jalan duluan. Dengan berlari saya mengejar bus tersebut. Tapi sayang tidak terkejar.

Langsung saja Pamulak saya telpon. Tapi tidak bisa tersambung. Saya ulangi lagi. Ternyata hasilnya sama. Akhirnya saya cuma bisa pasrah. Saya ketinggalan bus!

Di seberang sana, Pamulak baru saja bangun. Ketika saya tinggal ke kamar kecil dia memang masih tertidur. Pamulak yang baru bangun kaget karena saya tidak ada disampingnya. Dia lihat ke atas, tas saya masih menggantung. Tapi saya tidak ada. Di bangku belakang yang kosong juga tidak ada. Hanya ada satu jawaban yang ada dipikirannya: Edwin Ketinggalan!

Ketinggalan? Tapi entah ketinggalan dimana, pikirnya. Tapi yang jelas barang-barang saya memang masih ada di dalam bus. Ia lihat kedua ponselnya mati semua. Baterainya perlu diisi. Segera ia hidupkan laptop. Menancapkan kabel USB ke Laptop, kemudian menyambungkannya ke BlackBerry.

Setelah hidup, ia menelpon saya. Dia tanya saya ada di mana. Dia bingung kok tiba-tiba hilang. Saya jawab bahwa tadi ketinggalan bus! Saya minta dia untuk tetap saja melaju. Nanti ketemuan di Pekalongan saja. Sedangkan saya akan mencari bus lain. Untungnya masih pagi, jadi masih banyak bus yang akan lewat.

Alhamdulillahnya, dompet dan handphone saya ada di saku. Tidak saya masukan di dalam tas. Entah apa jadinya kalau tidak ada handphone apalagi uang di tangan. Masa mau ngemis-ngemis dulu minta tumpangan?

Beberapa bus yang ke Pekalongan mulai datang. Saya yang berada di pinggiran jalan melambai-lambai memberikan sinyal “Woi, berenti dong. Gue pengen naik!” Tapi baru setengah jam kemudian baru ada yang berhenti. Huft! Kirain gak ada yang mau naikin penumpang orang ganteng kayak saya ini.

Bus pun melaju ke Pekalongan. I’m on the track! Saya telpon Pamulak kalau sekarang sudah naik bus lagi dan menuju Pekalongan. Tapi sayang, ternyata bus Pamulak berhenti dua kali. Katanya ban nya bocor. Aha! Jangan-jangan saya duluan yang sampai ke Pekalongan.

Belum Mandi? Yang Penting Pede!

Sesampainya ke Pekalongan sekitar jam 8 lewat, saya berhenti di Wiradesa. Saya berhenti di Wiradesa karena ingin ke tempat Yani, rumah mempelai perempuan. Saya telpon Pamulak apakah di sudah sampai di Pekalongan, dia jawab sudah. Tapi ketika tanya posisinya sekarang di mana, Pamulak ternyata turun di KPP Pekalongan. Nanti katanya di akan dijemput Galuh, teman kami yang berangkat dari Jakarta dengan menggunkan mobil pribadi.

Saya terus jalan menuju ke rumah Yani. Karena sudah empat kali ke Pekalongan dan selalu mampir ke rumah Yani, saya jadi hafal jalannya.

Ketika sampai di depan rumah, saya agak malu-malu. Soalnya, ternyata saya belum mandi! Dengan mengenakan kaos yang ditutupi oleh Jaket biru dengan logo SPAN dan celana batik, saya beranikan tetap masuk.

Di sana ada Emil dan Danoyo beserta teman-teman lainnya. Setelah ngobrol dengan mereka, sang mempelai pria datang menghampiri saya. “Kemas, Barakallahu ya!”. Begitu doa yang saya sampaikan kepadanya. Soalnya, saya datangnya telat. Akad nikahnya sudah dilaksanakan ketika pagi.

Walaupun demikian, saya masih bisa mengikuti acara resepsi. Walimatul ‘urs diadakan di IBC (International Batik Center). Saya dan Danoyo pergi duluan ke IBC untuk membantu mempersiapakan tempat acara.

Sekitar jam 11, rombongan pengantin tiba. Acara resepsi dimulai. Para tamu undanganpun mulai berdatangan. Saya yang masih belum mandi, diminta ikut masuk. Awalnya saya menolak. Tapi karena terus-menerus ditarik, akhirnya saya manut aja.

Dengan wajah pede, saya masuk ke tempat acara. Saya lihat para undangan pada rapih-rapih dan wangi-wangi. Untungnya tak ada orang yang sinis melihat penampilan saya yang tetap mengenakan jaket dan celana bahan yang baru saya pinjam dari Emil.

Setelah pengantin naik ke panggung dan acara sungkeman selesai, para undangan berdatangan kepada kedua mempelai. Mereka bersalaman kemudian berfoto bersama. Saya yang tidak ingin diajak teman-teman naik ke panggung langung sembunyi. Mencari tempat yang jauh yang tidak bakal dicari.

Setengah jam kemudian barulah Pamulak dan Galuh beserta teman-temannya yang lain datang. Alhamdulillah, akhirnya bisa mandi! Langsung saja saya temui Pamulak. Mengambil tas. Lalu buru-buru ke kamar mandi. Duh, segernya….

Setelah bersih, rapi, dan wangi saya kembali ke tempat acara. Dengan pakaian batik dan celana jeans kali ini saya benar-benar pede. Tidak malu-malu seperti pas awal acara. Datang menghampiri orang-orang. Berbicara dengan yang lain. Mengambil makanan dan minuman. Serta tidak lupa berfoto dengan kedua mempelai.

Perjalanan Pulang yang Hampir Sempurna

Jam dua siang acara selesai. Saya dan Pamulak tidak langsung kembali ke Jakarta, tetapi mampir dulu ke rumah Salman. Kami mampir karena kereta yang kami pesan baru berangkat jam setengah sembilan malam.

Sesampainya di rumah Salman, saya langsung tidur. Saat bangun, ternyata sudah jam enam lewat. Wah, sudah magrib. Untungnya, setelah solat zuhur, saya melanjutkannya dengan menjamak solat asar. Jadi, solat asar saya tidak ketinggalan.

Saya dan Pamulak langsung solat magrib. Karena hujan, kami tidak langsung ke stasiun. Kami menunggu sebentar agar hujan reda. Sambil menunggu kami disuguhkan roti tawar berlapis mentega dan meses serta teh hangat.

Kami menunggu hingga isya tiba. Tapi ternyata hujan belum reda. Tapi lumayan sudah tidak terlalu deras. Setelah solat isya berjamaah, kami memutuskan untuk menerabas hujan. Tapi kali ini dengan perlengkapan jas hujan.

Sebelum sampai di Pekalongan, Salman mengajak kami makan soto Pekalongan: Taoto. Taoto atau kependekan dari Taucho soto, merupakan soto khas Pekalongan. Rasa Taucho yang tajam, sangat mengunggah selera makan saya malam itu. Apalagi ada daging jeroan yang menambah semakin nikmatnya makan malam kami.

Setelah kenyang, kami langsung ke stasiun. Sesampainya di sana, kami bertemu dengan mbak-mbak yang ternyata ikut ke acara pernikahan Yani dan Kemas. Mereka adalah teman-teman satu angkatan kami.

Di perjalanan pulang menuju Jakarta kali ini untungnya tidak ada hambatan. Ataupun tragedi seperti saat perjalanan menuju ke Pekalongan. Alhamdulillah.

Hanya saja, ketika naik bajaj menuju kosan dari stasiun Pasar Senen, Pamulak bilang “Win, selama empat tahun di Jakarta, baru kali ini aku naik Bajaj beneran!”. Dan omongannya itu dijadikan status di BB-nya.

9 thoughts on “Menuju Pekalongan: Dari Tragedi Kebakaran Hingga Insiden Ketinggalan Bus

  1. :O epic!

    aku pernah ngobrol sama mas2 pemadam kebakaran di Branwir, katanya mobil pemadam memang ada 2 jenis:
    yg 1 yg gede itu fungsi utamanya buat memadamkan api.
    yg 1 lg yg kecil, untk memadamkan api juga (yaiyalah) plus fungsi penyelamatan.

    jadi di mobil yg kecil itu ada tangga lipat yg panjaaang buat evakuasi org2 yg terjebak di gedung misalnya.

    tp lupa disebut apa ya mobilnya ._.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s