Membiasakan kebiasaan

Seorang lelaki tak dikenal pernah datang menemui Tiger Wood. Dengan penuh semangat dan senyum yang mengambang, ia ungkapkan keinginannya. Sang pemuda terobsesi menjadi pemain golf terkenal. Ia ingin seperti Tiger Wood.

Mendengar keinginan sang pemuda, Tiger Wood tidak serta merta menjawab. Terdiam ia sejenak. Ia memperhatikan sang pemuda. Dilihatnya dari ujung kaki hingga kepala. Sang pemuda terlihat benar-benar ingin menjadi seperti dirinya.

Tapi Tiger Wood tak langsung mengiyakan. Ia pun mengujinya.  Menguji dengan satu syarat. Ya, cuma satu syarat. “Nak, jika kau ingin sepertiku engkau cukup datang kemari setiap hari dan memukul bola sebanyak 10.000 kali”.

Sang pemuda tersentak. Tak disangka satu syarat itu terlalu sulit baginya. Agak ragu ia menjawab “saya bisa”. Mulutnya pun beku. Merasa tak sanggup dengan syarat itu akhirnya sang pemuda tersebut pergi meninggalkan Tiger Wood tanpa sepotong jawaban.

Kesuksesan memang begitu. Sebab ia merupakan output. Inputnya adalah keinginan yang mendalam. Sedang prosesnya adalah kebiasan-kebiasan yang hebat. Maka, lahirlah kesuksesan luar biasa.

Di titik itulah kita sering gagal menuju sukses. Kebanyakan orang tak peduli dengan cara yang digunakan. Yang terpenting bagi mereka adalah hasilnya. Padahal sebelum memasang atap, kita perlu menguatkan pondasi. Jika pondasi tak kokoh bagaimana kita bisa mencapai puncaknya?

Kebiasan sendiri tak datang secara tiba-tiba. Ia merupakan gelembung dari kerja dan kesabaran. Kerja yang dilakukan secara rutin. Diiringi kesabaran yang selalu sigap mendampingi. Sedang waktu adalah saksi bisu keduanya.

Maka, Malcolm Gladwell membuat suatu teori tentang kebiasaan. Dalam Outliers, Malcolm menulis bahwa seseorang yang ingin memiliki suatu kebiasaan harus melakukan sesuatu tersebut minimal 10.000 jam. Angka sepuluh ribu sendiri memang tidak diartikan sebagai waktu yang mutlak.  Tetapi, bagi jurnalis kontemporer ini kaidah 10.000 jam menunjukan jika kebiasaan memang tak bisa dicapai dalam tempo yang singkat.

Bukan hanya teori Malcolm Gladwell yang mengatakan demikian. Sekitar 600 tahun yang lalu seorang cendikiawan Islam telah mengungkapkan gagasan yang sama. Maka, Ibnu Khaldun membantah pendapat orang-orang yang menyatakan bahwa keterpeliharaan nabi turun secara seketika. Bagi ibnu Khaldun, sifat ma’shum diperoleh jauh sebelum seseorang menjadi nabi.

“Di antara ciri mereka”, kata ibnu Khaldun, “adalah sebelum mendapat wahyu mereka berakhlaq mulia dan suci serta menjauhi perkara-perkara yang tercela secara keseluruhan. Inilah makna ke-ma’shuman (keterpeliharaan) mereka”. “

Maka”, lanjut beliau dalam Muqaddmiah,” Seolah Nabi itu memiliki sifat alami untuk suci dari perkara-perkara yang tercela dan menjauhinya. Seolah perkara-perakara yang buruk itu berlawanan dengan tabiatnya”. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s