Lebih banyak mana?

 Untitled-1

“Ya Allah, jadikanlah akhirat itu di hatiku dan dunia itu di tanganku”

Di antara kekhawatiran saya  ketika memasuki dunia kantor adalah kecintaan terhadap dunia. Kecintaan berlebihan kepada dunia bisa membuat seseorang menjadi lebih suka dengan kenikmatan sesaat dan melupakan kehidupan abadi.  Dan pada gilirannya, akan merusak ibadah dan muamalahnya.

Dalam Islam, manusia bukan dilarang menikmati kehidupan dunia. Islam mengajarkan konsep tawazun, yaitu seimbangnya antara kehidupan dunia dan akhirat seperti yang termaktub dalam Al-Qashash: 77.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah padamu (kebahagiaan) negeri akhirta, dan janganlah melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.”

Bahkan Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda, “Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang tidak meninggalkan akhirat dalam urusan dunia dan tidak meninggalkan dunia karena urusan akhirat dan tidak membebani masyarakat.”

Lebih jauh lagi, Umar radhiyallahu’anhu pernah berkata bahwa  seseorang yang bekerja untuk dunianya lalu menafkahkannya untuk saudaranya yang kerjanya hanya ibadah saja, itu lebih saleh dibandingkan saudaranya itu.

Tapi kekhawatiran atas kenikmatan dunia yang berlebihan pernah membuat seorang sahabat gusar. Maka, ia — Abu Bakr radhiyallahu’anhu– berdoa, Ya Allah,jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami”.

Indikator

Suatu saat saya sempat bertanya, “apa indikator bahwa dunia itu ada di tangan kita, bukan di hati kita?”

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan beberapa jawaban dari orang lain. Pernah saya mendengar ceramah suatu ustadz bahwa indikatornya seperti berikut. Jika kita keluar rumah lalu diluar pintu terdapat dua kondisi, pertama seorang yang datang ke rumah untuk meminta-minta. Yang kedua, ternyata di depan rumah kita tiba-tiba ada tumpukan harta. Mana di antara dua kondisi tersebut yang kita sukai?

Jika jawabannya yang pertama, maka menurut beliau kita tidak hubbud dunya. Namun, jika jawabannya yang kedua, maka beliau mengindikasikan bahwa kita lebih cenderung hubbud dunya.

Penjelasan ustadz tersebut bagi saya mungkin belum bisa diterima 100%. Maksudnya, saya masih bisa ngeles bahwa, dengan kita mendapat harta yang banyak, kita bisa saja menyedekahkannya. Bahwa, secara hitung-hitungan matematika bisa lebih besar daripada kondisi yang pertama.  Tapi itu cuma pendapat saya lho.

Belakangan, saya mendapat penjelasan yang lebih memuaskan. Istilahnya, jika dalam bahasa Al-Qur’an itu qaulan baligha.   Kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele. Berikut kata beliau.

“Coba dihitung-hitung, pas di kantor lebih banyak mana: mikirin kerjaan atau mikirin hasilnya (baca:gaji dan sebagainya). Kalau lebih banyak produktifinya daripada ngawang-ngawangnya, itu berarti dunia itu di tangan kita, bukan di hati kita”.

Ah, mari coba berhitung kembali, lebih banyak mana aktivitas yang kita lakukan saat di kantor: mikirin kerjaan atau mikirin hasilnya?

4 thoughts on “Lebih banyak mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s