Muhammad Amin

Sejak dunia Islam mulai mengenal bangsa Eropa dan manut begitu saja di bawah arahan intelektual dan kepemimpinannya dalam proses peradaban ketimbang meyakini risalah nyatanya (Islam), apalagi menjadikannya sebagai pedoman pokok bagi kehidupan umat manusia, sejak itu pula dunia Islam mulai menerima perannya dalam kehidupan, dalam kerangka pengotak-kotakan negara yang diciptakan bangsa Eropa. Dalam hal ini, mereka (bangsa Eropa) memilah-milah negara-negara di dunia ke dalam dua kategori berdasarkan tolok ukur kemampuan ekonomi dan potensi produktivitasnya, yakni negara maju dan miskin atau terbelakang. Negara-negara di dunia Islam yang semuanya dimasukkan ke kategori terakhir—sesuai logika bangsa Eropa—akhirnya dipaksa untuk mengakui kepemimpinan negara-negara maju seraya memberi negara-negara maju itu keleleluasaan untuk menanamkan semangat mereka dalam diri umat Islam sekaligus—konon—meratakan jalan bagi kemajuan umat.

Dengan cara ini, dunia Islam yang secara ekonomi digolongkan sebagai kumpulan negara miskin, memulai kehidupannya dengan peradaban Barat dan melihat problem dirinya sebagai problem ketertinggalan ekonomi di belakang negara-negara maju yang…

Lihat pos aslinya 69 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s