Empat Cara Atasi Kredit Macet ala KKG

Suatu perusahaan tidak melulu berjalan mulus. Kadang untung kadang rugi. Bahkan,  bisa juga terkena kredit macet. Kalau perusahaan sudah macet bisa-bisa kolaps. Jika semua kolaps ekonomi mandek. Krisis! Kita pernah mengalaminya ketika hampir abad ke-dua millennium. Lalu, bagaimana solusinya?

Sebenarnya ada banyak jalan keluarnya. Setidaknya ada empat cara yang dikemukakan oleh Kwik Kian Gie (KKG) dalam bukunya yang berjudul “Pikiran yang Terkorupsi” (2006). Saya menyadur tulisan KKG karena saya anggap cara penyampainnya yang mudah dan jelas. Apalagi orang yang awam tentang dunia financial seperti saya.

1. Bail-out

Kalau kita mengacu pada praktik dagang, yang diartikan bail-out adalah mbayarin utang orang lain. Caranya bisa macam-macam. Kita akan mengambil contoh yang paling jelas dan konkret. Pengusaha Dadang punya utang sebesar 100 Miliar kepada Bank Jebol. Utangnya macet total. Kakak Dadang yang bernama Mamad sangat kaya. Dia membayar utang Dadang kepada bank. Masalanya selesai, the case is closed.

Silahkan subjek diatas disubtitusi menjadi pemerintah dan pihak swasta.

2. Restrukturisasi

Pabrik milik Dadang yang punya utan dari Bank Jebol dan macet dengan sendirinya juga tidak punya likuiditas sama sekali. Dan selama masalah kredit macetnya diselesaikan, Dadan gtidak mungkin memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mempekerjakan pabriknya lagi. Jelas Dadang sedih. Namun, bank yang piutangnya kepada Dadang macet juga sedih. Apa prospeknya? Pabrik tutup terus sampai semua mesin menjadi besi tua, dan piutang bank kepada Dadang ikut musnah juga.

Maka Bank Jebol dan Dadang bersama-sama mencari solusi. Ternyata utang Dadang yang Rp 100 Miliyar itu terdiri dari utang pokok sebesar Rp 70 Miliar dan utang bunga ditambah dengan sebesar Rp 30 Miliar. Bank Jebol dan Dadang menyewa konsultan.

Bertiga mereka melakukan berbagai macam scenario dan proyeksi-proyeksi. Hasilnya, perusahaan akan berjalan lancar kembali kalau komponen bunga dan denda dihapus. Sehingga Dadang hanya berhutang pokoknya saja sebesar Rp 70 Miliar. Lantas bunga untuk utang yang Rp 70 Miliar ini dibayar tiga tahun dari sekarang. Cicilan utang pokoknya sebesar Rp 70 Miliar dibayar lima tahun dari sekarang. Kepada Dadang diberikan kredit tambahan untuk modal kerja.

Kalau ini dilakukan, feasibility dan viability study, business plan, dan proyeksi-proyeksi mengatakan bahwa pabrik akan jalan lagi, dan dalam waktu 10 tahun dari sekarang utang pokok yang Rp 70 Miliar akan terbayar kembali. Sebagai kompensasi hilangnya pendapatan bunga dan denda, Bank Jebol minta 20 persen saham perusahaan. Direksi Bank Jebol memutuskan melakukan apa yang digambarkan tadi, dan Dadang menyetujuinya. Ini namanya restrukturusasi.

Sebelum para ekonomon kenamaan sekarang teriak-teriak “Batalkan bail-out, jangan bebani APBN” dan sebagainya, mereka juga sering mengatakan “restrukturisasi perusahaan!” Apa yang mereka artikan dengan restrukturisasi perusahaan kalau tidak seperti yang digambarkan di atas? Apakah sekadar mengubah letak mesing-mesin, mereorganisasi meja kursi dan sejenisnya?

3.       Debt-to-equity Swap

Bank Jebol bisa juga mencari jalan untuk membuat piutangnya kepada Dadang lancar kembali dengan cara melakukan debt-to-equity swap (pengalihan utang menjadi saham). Setelah membuat studi tentang segala macam kemungkinan dan alternative, Bank Jebol dan Dadang tiba pada kesimpulan bahwa yang paling realistis adalah menukar piutang kepada Dadang sebesar Rp 100 Miliar dengan kepemilikan saham perusahaan sebanayak 50 persen.

Bank sepakat dengan Dadang bahwa perusahaan tidak punya utang lagi kepada bank sehingga Dadang tidak perlu membayar bunga. Perusahaan yang dibebaskan dari pembayaran bunga bisa mulai bekerja lagi, atau istilah yang lebih tepat, bisa jump start lagi. Solusi melancarkan kembali kredit yang macet dengan cara demikian disebut ditransformasikannya utang (loan capital) ke dalam modal sendiri (equity capital). Istilah yang lazim adalah Debt-to-equity Swap.

Bukankah banknya merugi karena yang tadinya menerima bunga setiap bulan sekarang tidak lagi? Studi tadi menunjukan, setelah lima tahun perusahaan Dadang untung besar. Maka bank yang semestinya menikmati pendapatan bunga untuk lima tahun mendatang tidak menikmati apa-apa.

Akan tetapi, perhitungannya adalah setelah lima tahun bank akan menikmati 50 persen laba yang diraih oleh perusahaan, yang menurut studi dan proyek jumlahnya besar. Hitung punya hitung, lebih menguntungkan. Apalagi kalau nantinya sudah solid, saham-saham dijual melalui initial public offering (IPO) di BEJ dengan agio yang tinggi.

Namun, bukankah keputusan bank melakukan debt-to-equity-swap itu didasarkan atas perhitungan-p[erhitungan yang dasaranya prakiraan dan proyeksi? Bagaimana kalau meleset? Semua keputusan wiraswastawan didasarkan atas proyeksi yang selalu mengandung risiko. Lebih hebat lagi adalah keberanian para fund manager melakukan jual-beli saham.

Perhitungan nilai saham selalu mengandung unsur mengkapitalisasi cash flow atau laba yang diyakini akan diperoleh di masa mendatang. Salah satu metode yang popular untuk menentukan nilai perusahaan adalah yang dinamakan discounted cash flows method. Metode ini menghitung nilai kontan (net present value) cash flows yang akan diterima di masa mendatang untuk periode yang tidak ada batasannya atau perpetual.

Bayangkan berani-beraninya meramalkan arus yang akan masuk sampai onenindig, sampai batas waktu atau perpetual. Toh, para ahli di bidang ini menganggap bahwa ini cara yang realitistis dan fair. Ada cara lain yang juga terkenal dan lebih mudah, karena didasarkana tas angka-angka historis, yaitu yang dinamakan price earning ratio atau disingkat PER.

4. Eksekusi Jaminan Kredit

Ketika perusahaan utang dari bank, dalam akad kreditnya disebutkan bahwa yang menjadi jaminan adalah perusahaan itu sendiri. Nah, Dadang utang sebesar Rp 100 Miliyar. Utangnya macet. Bank menggunakan haknya dengan cara menyita perusahaannya. Dengan demikian dadang kehilangan perusahaannya, dan bank menjadi pemilik 100 persen perusahaan. Ini namanya Bank Jebol melakukan eksekusi jaminan untuk menyelesaikan kreditnya yang macet kepada Dadang.

Empat macam cara penyelesaian kredit macet yang dikemukakan di atas memang sengaja dibuat sanga hitam-putih, seoalh-olah setiap pola penyelesaian adalah steril dari unsur-unsur pola pemecahan lainnya. Dalam kenyataannya, tentu tidak demikian. Maksudnya adalah supaya pola-pola pemecahan menjadi jernih dan gamblang.

Semoga tidak membingungkan ya, hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s