Pekora!

Part 1

Pada bulan Agustus lalu, ada suatu kabar gembira yang datang. Seorang kakak tingkat akan segera menikah pada bulan September. Berarti bulan Syawal. Memang bulan syawal itu, kata orang, bulannya orang nikah. (Yaiyalah, masa nikahnya pas Ramadhan?) Ternyata undangan tidak hanya datang dari Pekalongan. Ada undangan satu lagi datang dari teman satu angkatan dengan tema yang sama: nikah!

Undangan pertama dari Mbak Niken. Saya dan Mbak Niken dulu sama-sama aktif di dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himas). Beliau adalah senior saya yang sudah dua tahun aktif di Himas. Selain Mbak Niken, staf PSDM yang masih bertahan di tahun selanjutnya adalah Mas Octo. Mas Octo lah yang menjadi raja alias kabid PSDM.  Saya kira mereka berdualah yang akan menikah. Soalnya dulu saya dan teman-teman yang lain sering menjodoh-jodohkan mbak Niken dan mas Octo. Tapi sayangnya, “doa” kami belum sekuat doanya mbak Niken.

Undangan kedua datang dari Windy. Teman satu angkatan saya yang dulu sama-sama aktif di Masjid Baitul Maal. Perkiraan saya calonnya adalah teman laki-laki yang satu angkatan dengan kami. Dan ternyata dugaan saya salah (lagi). Wah, ternyata kemampuan saya dalam menebak-nebak sudah berkurang jauh. Padahal ketika SMA dulu, saya jago sekali main tebak-tebakan. Sampai-sampai saya dan kawan-kawan 3 kali menang juara LCT se-Lampung. Hehe.

****

Setelah mendapat undangan dari Mbak Niken, saya dan Kresna, teman di PSDM, mencoba menghubungi teman-teman PSDM Himas yang lain. Bertanya kepada mereka siapa saja yang bisa ikut ke Pekalongan. Setelah mendapat jawaban dari mereka, ternyata hanya saya, Kresna, Mas Octo, dan Mbak Luvi. Lebih jauh setelah bertanya lagi Mas Octo akan pergi ke Pekalongan dengan menyewa mobil bersama temannya. Sedangkan Mbak masih bingung karena belum lama ia kembali dari rumahnya, Semarang. Dan juga Mbak Luvi ada rencana untuk pergi bersama temanya dari Semarang. Akhirnya Mbak Luvi naik kereta bisnis.

Akhirnya saya akan berangkat bersama Kresna. Berdua saja. Memang lebih sedikit orang lebih enak mengaturnya. Hanya saja, karena sedikit dan tak pernah kemana-kemana menjadi boomerang bagi kami. Maksud saya, kami tidak punya pengalaman ke mana-mana. Jadilah semua persiapan menuju Pekalongan harus tanya sana-sini dulu.

Sebenarnya, ada beberapa alternatif untuk sampai ke Pekalongan. Pertama naik pesawat. Kalau naik pesawat keuntungannya adalah waktu tempuhnya cepat. Hanya 1 jam. Tapi sayangnya harga tiket pesawatnya mahal. Selain itu, Bandara di Pekalongan tidak ada. Jadi harus ke Bandara Ahmad Yani, Semarang. Sedangkan dari Bandara Ahmad Yani ke Pekalongan agak jauh.

Kedua, naik bus. Kami coba bus apa saja yang dari Jakarta ke Pekalongan. Informasi yang kami dapatkan ada dua bus. Pertama, bus yang dari terminal Rawamangun. Kedua yang berangkat dari Kebayoran Lama. Harga busnya rata-rata 70 ribu. Itu sudah yang eksekutif. Yang ada AC-nya.

Ketiga, naik kereta. Kalau naik kereta bisa lebih cepat dari naik bus yang memakan waktu 8 jam. Dari Stasiun Senen ke Pekalongan bisa ditempuh dalam waktu 4-5 jam. Harganya pun lebih murah. Yang ekonomi hanya 35 ribu.

Dari ketiga alternatif di atas, nomor 3 itulah yang layak untuk dipilih. Pertama karena lebih murah. Kedua, waktu tempuhnya cepat. Tapi sayangnya pada saat ingin memesan tiket, tiket keretanya sudah habis. Yasudah, berarti  kami putuskan naik bus saja. Toh juga biar pas hari Jum’at sorenya gak PSW alias pulang sebelum waku. Karena Bus Pekalongan di Terminal Rawamangun masih ada hingga jam delapan malam.Sip, deal!

****

Jumat Sore, tanggal 31 September. Cuaca gerimis. Tapi saya sudah ada janji dengan Kresna. Bersiap ke Rawamangun untuk selanjutnya naik bus ke Pekalongan.

Kresna membonceng saya dengan motor maticnya. Jalanan dari arah Cempaka putih agak macet. Maklum, ini kan jam pulang kerja. Hari Jumat lagi. Biasanya banyak pegawai yang tango alias jam 5 teng langsung go!

Kami Solat magrib di masjid dekat BPKP. Lalu kami ke arah ke kosan teman kami di daerah Utan Kayu. Setelah bertemu, kami menitipkan motor. Karena kami tidak mungkin naik motor ke Pekalongan. Bisa tepos! Hehe

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Rawamangun. Kami naik metro mini 03. Kurang lebih perjalanan kesana dari Ramawangun sekitar 15 menit. Jalanan ramai lancar.

Sesampainya di terminal Rawamangun, kami tidak langsung naik Bus. Kami masih menunggu teman kami, Dien. Saya, Kresna, Dien, dan Anis patungan untuk membelikan kado untuk hadiah pernikahan mbak Niken. Tapi Dien yang membelikan. Jadi saya dan Kresna tinggal terima jadi. Bayar harga kadonya yang sudah dibagi empat.

Karena agak lama, Kresna izin dulu buat cari makan. Kasihan dia mau perjalanan jauh tapi belum makan malam. Saya sebenernya juga belum makan malam. Hanya saja sekitar jam 4 sore tadi sudah makan. Jadi masih kenyang. Untuk jaga-jaga, saya sudah membeli roti dua bungkus.

Setelah Kresna membeli makan, tak lama kemudian Dien sampai di terminal Rawamangun. Sebuah bungkusan besar dibawa dengan kedua tangannya. Kado sudah siap, berarti tinggal berangkat. Dien bertanya kepada kami apakah kami sudah beli tiket. Kami hanya menjawab dengan menggeleng-gelengkan kepala.

“Terus kalian mau nyari on the spot? Kalau tiketnya abis gimana?”, tanya Dien tendensius.

He? Emang bisa abis ya? Bukannya emang on the spot pesannya? Setelah mendapatkan penjelasana dari Dien baru tahu kalau tiketnya bisa dipesen sebelum hari-H. Saya kira tiket bus nya seperti Bus ke Merak yang selalu on the spot.  Ah, Dien. Kau masih seperti dulu. Seperti kami di PSDM. Dien memang yang selalu paling cerewet dan detail. Tidak seperti kami yang nekat tanpa informasi apa-apa.

Karena khawatir takut kehabisan tiket, kami buru-buru cari bus yang ke Pekalongan. Entah apa nama bus nya. Kami juga tidak tahu. Kami cari pool yang masih buka. Hanya tinggal dua yang masih ada: Lorena dan Nusantara. Kami tanya ke Lorena berapa harganya. Petugasnya bilang 150ribu. Bus Eksekutif plus makan malam. Sedangkan yang Nusantara 100ribu. Walau bukan eksekutif, ada AC nya. Cuma tidak ada makan malam.

Dari sisi harga memang lebih murah bus Nusantara. Tapi dari kejauhan bus Nusantara yang kami lihat seperti kurang perawatan. Lusuh. Kusam. Suasana horor pun bisa saya rasakan dari jauh. Kami coba nego ke bus Lorena. Bisa tidak kalau dikurangi. Jangan 150ribu. Itu kemahalan. Toh kami hanya berhenti di Jawa Tengah, Pekalongan. Sedangkan Bus Lorena ini sampai ke Jawa Timur.

Setelah nego akhirnya petugas bilang “Yaudah. 100ribu aja”. Hore! Akhrinya kami memutuskan untuk menaiki bus Lorena. Kami berikan uang 200ribu untuk dua tiket. Dien tidak bisa ikut bersama kami karena harus mengurus pemberkasan. Setelah membeli tiket kami naik bus. Kami berikan tiket tersebut kepada kondektur. Dien hanya mengantar kami sampai ke bus. Dia memberikan kado untuk mbak Niken kepada kami. Saat mau memberikan uang patungan buat kado dia menolaknya. “Aku gak enak sama kalian. Tiket busnya aja udah mahal. Jadi kalian gak usah patungan”. Kami agak sedikit maksa, dia tetap tidak mau. Yasudah. Kami cuma bisa mengucapkan terima kasih. Dan bus pun berangkat.

****

Bus Lorena. Eksekutif. Jurusan Jakarta—Surabaya. Tempat duduk ada 30 bangku. Tapi yang naik pada malam itu hanya ada 8 orang: 6 orang penumpang, 1 sopir, dan 1 kondektur. It’s not executive but exclusive!

Tak apalah. Walaupun sedikit yang penting sampai tujuan: Pekalongan. Kalau dibilang Pekalongan di otak saya cuma ada satu hal: Kota Batik! Ya, hanya itu. Di mana letaknya pun saya tidak tahu. Yang penting namanya tau, Pekalongan. Jadilah saya bingung sendiri ketika bilang sama pak sopir saya turun di Pekalongan “Pekalongannya sebelah mana dek?”, tanya pak sopir. Wah pak, saya juga gak tau! Yang penting Pekalongan pak. Sepertinya pak supir agak kesal dengan pertanyaan saya tentang seperti apa pekalongan dan tempat turunnya bisa dimana. Hingga akhirnya beliau mengatakan, “Yang saya tahu jalanan ini hitam mas!”.

Mendengar jawaban itu saya kecewa sendiri. Dalam hati saya menggerutu “Wah pak, kalau jalanan hitam saya juga tahu!”. Akhirnya ,saya kembali ke tempat duduk dan mulai mencari kontak untuk bertanya.

Lalu saya coba sms teman saya yang di Pekalongan. Cuma satu orang yang saya kenal: Yani. Oke. Coba sms dia. Ternyata dia minta kami turun di stasiun Pekalongan. Nanti kalau udah sampai di sana sms temannya saja, Salman. Salman lah yang akan menjemput kami dan mengantar kami ke tempat mbak Niken. Oke saya ikuti saja perintahnya. Toh dia yang orang Pekalongan. Pasti lebih tau daripada kami yang sudah bukan orang Pekalongan dan tidak pernah ke Pekalongan. Yang membuat panik adalah sampai pukul 10 salman tidak bisa dihubungi, ternyata sudah tidur. Dan kami pun masih harus bersabar menunggu salman bangun, semoga.

Berangkat sudah diatur. Tinggal bagaimana nanti pulang ke Jakarta. Baru saja saya diskusi dengan kresna nanti mau bagaimana pulang ke Jakarta ada sms dari teman saya. “Win kamu udah dapat tiket pulang belum?” sms dari Ruri. Wah, baru saja kami bingung mau menentukan mau naik apa pada saat pulang ke Jakarta, ada teman saya yang menawarkan tiketnya kepada kami. Alhamdulillah! Tapi saya masih penasaran kenapa tiket itu diberikan kepada kami. Khawatir si empunya tiket malah tidak bisa pulang karena tiketnya diberikan kepada kami.

“Enggak koq. Itu memang karena ada pemberkasan aja. Jadi mereka langsung pulang kampung. Jadi gak perlu pulang ke Jakarta”. Setelah mendapat balasan sms dari Ruri, barulah saya lega. Berarti tiket tersebut memang diperuntukan untuk kami. Bukan mengambil dari jatah orang lain. Akhirnya kami bisa tidur dengan tenang.

****

“Mohon maaf Bapak-bapak, HP dan Uang saya hilang!”. Begitu suara seorang ibu yang berdiri di depan, tepat sebelah pak sopir. Mendengar suara itu saya baru bangun. Sedikit demi sedikit mencoba mencerna perkataan ibu tersebut. Saya mencoba bertanya apa yang terjadi sebenarnya. Setelah mendapat penjelasan barulah kami tahu kalau sang ibu baru saja kemalingan.

Tapi saya tak habis pikir. Kenapa sang pencuri mau melakukan aksinya disini: tempat terbatas dan sedikir penumpang. Entah apa modusnya tapi kun fa yakun. Terjadi, maka terjadilah. Tinggal bagaimana cara menemukan HP sang ibu beserta uangnya. Kemudian pak sopir meminta semua penumpang memeriksa tas mereka masing-masing.

Saat memeriksa, ternyata tas saya sudah tebruka. Saya kaget. Koq bisa sudah terbuka. Siapa yang membuka? Saya cek apakah ada yang hilang. Alhamdulillah tidak ada. Saya coba tanya ke Kresna. Ternyata tasnya juga sudah terbuka. Bahkan pas dia mencari kamera digitalnya sudah tak ada di dalam tas. Ternyata kamera sudah ada di luar tas. Tepat dibawah kursi depan kresna, di dekat sandal, terdapat kamera itu. Kami saling bertatapan dan sambil menggantung sebuah tanya: siapa yang mengeluarkannya?

Selain kamera ada pula HP merk Samsung di tempat kamera ditemukan. Lalu kami tanya apakah HP tersebut milik sang ibu. Ternyata benar. HP tersebut milik sang ibu.

Setelah memberikan HP itu kepada sang pemilik, ada persaan yang tidak enak di hati. Bukan karena tidak senang HP tersebut ditemukan. Bukan. Melainkan khawatir mereka menuduh kami yang mencuri HP. Kenapa? Karena HP tersebut berada di dekat kami. Lalu kamilah yang menemukan. Terlebih posisi ditemukan tepat di dekat sandal Kresna.

Akhirnya kami mencoba tabayun kepada sang ibu bahwa bukan kami pelakunya. Alhamdulillah sang ibu pun percaya. Bahkan dia tidak curiga sama sekali kepada kami. Beliau malah curiga dengan orang yang tepat berada di bawah kami. Karena beliau melihat orang tersebut bolak-balik dari depan ke belakang pada saat penumpang tidur. Tapi sang ibu memperhatikannya.

Namun demikian, jika ingin menuduh orang tersebut juga sulit. Karena barang yang hilang adalah uang. Bagaimana membutkitkan kalau uang tersebut milik sang ibu? Jika HP bisa dilihat dari list contact dan sms maka uang dicek dari nomor serinya! Memang sang ibu menuliskannya? Jelas tidak mungkin. Terlebih, di dalam mata kuliah audit dulu sang dosen menjelaskan bahwa untuk mengecek kepemilikan uang adalah siapa yang memegangnya. So, Case closed!

Walaupun secara teori memang tak mungkin menemukan kembali uang sang ibu, kami masih mencari cari lain. Mencoba berfikir out of the box. Tapi tetap saja terkendala dua hal: mengapa harus menjurus ke bapak yang di depan kami dan bagaimana cara pembuktiannya.

Bus tetap melaju. Lima belas menit terus kami berifikir. Mencari solusi yang sangat sulit dipecahkan. Akhirnya, pada saat kami sampai di terminal Pekalongan jawaban siapa pencurinya pun masih misteri. Kami akhirnya minta turun di sana.

Pada saat ingin turun ada sedikit keganjilan. Keganjilan yang membuat hipotesa kami di awal menunjukan ke arah kebenaran: seorang bapak yang kami curigai sebagai pelaku ternyata ikut turun di stasiun Pekalongan. Wow! Walaupun begitu kami tetap diam saja. Tak ada menuduh secara frontal. Biarkan Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat lah yang akan membalas siapa pelakunya. Wallahu’alam

Part 2

Pekalongan. Akhirnya kami sampai di Pekalongan. Kami tiba di stasiun pukul 4.30 pagi.S uasana subuh yang dingin menyambut kami.

Ketika bingung menentukan arah, ada seorang tukang becak yang menghampiri kami. Seorang lelaki tua dengan kaos oblong dan celana pendek mulai bertanya.

“Mas, bali mas?”

“Hah? Bali?” jawab kami agak kaget.

“Perasaan tadi liat plang jalan tulisannya Pekalongan? Jauh amat sampai ke Bali?” gerutuku dalam hati.

Agak bingung melihat eksperesi kami yang diam, bapak tua itu lalu melanjutkan pembicaraan dengan menggunakan bahasa Indonesia.

“Pulangnya ke mana mas?”

Pulang? Oalah, berarti yang dimaksud bukan Bali pulau dewata. Melainkan bali dalam bahasa jawa yang berarti pulang!

Bingung ingin ke mana, kami memutuskan untuk solat dulu. Kami minta diantarkan ke mushola terdekat. Setelah diantar ke mushola ternyata musholanya tutup. Entah karena memang tutup atau karena solat subuhnya sudah selesai. Maklum, ini kan Pekalongan. Ada sedikit perbedaan waktu sekitar 20-30 menit.

Akhirnya, sang bapak membawa kami ke pom bensin. Untuk apa? Yang jelas bukan untuk isi bensin. Masa becak pakai bensin. Becak kan go green! Kami ke pom bensin mau sholat. Karena di sana pasti ada musholanya. Walaupun kecil sih.

Setelah solat, kami melihat suasana suasana di Pekalongan sudah cerah. Padahal waktu itu baru pukul lima. Tapi sudah masuk fajr shidiq. Lagu Opick bersenandung menyambut pagi, diputar SPBU tersebut. Sambil mendengarkan lagu syahdu itu, saya mencoba menelpon Salman. Kami beritahukan kalau kami sudah sampai di Pekalongan. Sekarang kami di Pom Bensin dekat stasiun Pekalongan. Kami yakin dia tahu. Soalnya, stasiun Pekalongan kan cuma satu.

Tak lama berselang Salman pun datang dengan motor bebeknya. Dia agak kaget melihat saya kesini tidak sendiri. Hal ini karena Yani tidak memberi tahunya kalau saya kesini berdua dengan Kresna. Akhirnya, karena cuma ada satu motor, saya diantar dulu ke rumahnya. Kemudian Salman balik lagi ke pom bensin untuk menjemput Kresna.

****

Jarak rumah Salman dari stasiun pekalongan tidak jauh menurut ukuran naik motor. Menghabiskan waktu sekitar 6 menit. Kecepatan motor Salman rata-rata 40km/jam. Karena tidak ada macetnya seperti di Jakarta saya hitung kecepatannya mendekati konstan. Sehingga jarak antar rumah Salman dan stasiun, menurut perhitungan di atas, adalah sekitar 4 km. Eh, kenapa tiba-tiba jadi kayak belajar fisika?

Rumah Salman terletak di daerah Krapyak. Krapyak masuk ke dalam daerah Pekalongan Utara. Saat ke sana, saya banyak melihat masyarakat menggunakan sepeda. Banyak becak-becak “berkeliaran”. Saya tidak menemukan ojek ketika perjalanan. Kata Salman yang banyak memang becak di sana.

Di sana banyak pepohonan. Masih hijau.  Asri. Sesuatu yang sangat sulit didapatkan di Jakarta kecuali di tempat-tempat tertentu. Suasana ini sangat saya sukai. Tidak banyak polusi dan banyak pepohonan. Suplai oksigen dari hijaunya pohon pasti banyak. Pagi yang segar.

Sesampainya di rumah Salman, kami disambut oleh ibu dan adik Salman. Mereka ramah sekali. Menyuguhkan kami teh hangat dan bubur ayam. Wah, kebetulan perut kami juga agak keroncongan. Kami makan dengan lahap. Habis tak tersisa. Kecuali saya. Ada telur puyuh yang belum habis. Maklum, saya memang kurang suka dengan telur. Bahkan pas kuliah malah hampir tidak pernah makan telur. Maka dari itu, kalau ada pelatihan, biasanya banyak teman yang jika makan dekat dengan saya. Soalnya, saya tidak doyan telur. Sehingga telurnya pasti saya kasih ke mereka.

Setelah kenyang makan makan bubur ayam, kami mandi. Masa mau kondangan enggak mandi? Ntar bau lagi. Apalagi habis perjalanan jauh. Maka, saya dan Kresna secara bergantian mandi di rumah Salman.

Seusai mandi, kami disuguhkan satu lagi makanan: kue lupis. Pas lagi hangat-hangatnya kami makan kue ini. Kue lupis ini sudah sering saya makan. Cuma bedanya, kalau di Lampung makan kue lupis diseartai parutan kelapa. Atau juga ada yang dengan gula merah cair sebagai cocolan. Tapi kalau yang ini tanpa saus cocolan ataupun kelapa parutan.

Walaupun demikian, rasanya sangat enak. Sambil makan, Salman bercerita bahwa kue ini kalau dibuat membutuhkan waktu sehari semalam. Kalau acara Syawalan, kue lupis ini akan menjadi makanan yang tidak pernah terlewatkan.

Setelah menghabiskan beberapa kue lupis, kami kedatangan tamu. Seorang pria dengan baju batik datang ke rumah Salman. Ternyata dia adalah juga anak STAN. Kami memperkenalkan diri. Dia bilang namanya Hilman. Belakangan saya baru tahu kalau namanya Safrinda. Hanya saja panggilannya memang Hilman.

Kemudian kami melanjutkan obrolan. Ternyata Hilman datang bukan untuk bertamu. Dia datang ke tempat Salman karena memang memiliki tujuan yang sama. Yaitu datang ke pernikahannya mbak Niken. Dengan adanya Hilman memudahkan kami untuk pergi ke Bojong, rumah mbak Niken.

****

Perjalanan dari Krapyak ke Bojong lumayan jauh. Sekitar 45 Menit. Tapi kami tidak langsung ke Bojong. Kami mampir dulu ke rumah Yani di daerah Dadirejo. Di rumahnya ini ada juga teman-teman lain yang berkumpul untuk tujuan yang sama. Mukanya sangat familiar. Mereka adalah teman-teman di kampus. Tapi memang saya tidak pernah berkenalan dengan mereka. Hanya sekadar lalu-lewat saja. Maklum, beda spes.

Setelah berkumpul kami melanjutkan perjalanan ke Dadirejo. Semuanya naik motor. Kecuali satu: Yuni. Yuni adalah teman saya di DJPB. Dia naik honda Jazz merah. Masih baru. Masih mulus. Bisa dilihat dari tampilan dan plat mobilnya.

Jalan di daerah Pekalongan memang jauh sekali dengan Jakarta. Sepi. Walaupun tidak sepi-sepi amat. Tidak seperti di Jakarta yang macet. Dikit-dikit lampu merah. Disini lapang. Bukan karena luasnya jalan. Tapi karena tidak banyaknya kendaraan.

Saya dibonceng Salman. Sedangkan Kresna dibonceng Hilman. Kami jalan dengan metode konvoi. Karena tidak semuanya tahu jalan. Yang tahu jalan di depan: Yani. Tapi saya lihat dia gasnya kebut sekali. Untuk ukuran perempuan, saya kira itu kelewat batas. Ternyata bukan cuma Yani, Yuni pun sebelas-duabelas. Kami malah sulit mengejar mereka. Terpaksa gas ditambah.

Entah kenapa dua perempuan itu bisa ngebut sekali. Entah karena memang sangat menikmati berkendara. Atau karena memang jalanan sepi. Bisa jadi karena sudah jadi kebiasaan disini? Entahlah. Yang jelas pas kami bilang ke Yani kalau dia naik motornya kenceng sekali dia malah tidak percaya “Iya toh? Kayak pelan-pelan aja tuh”. Ha? Lebih dari 60km/jam dibilang pelan? Yowes, seng penting sampai tujuan dengan selamat!

Kami tiba dirumah mbak Niken sekitar pukul 11 siang. Acara walimahan baru dimulai. Baru sesi foto keluarga. Kateringan pun baru dibuka. Para undangan dipersilahkan untuk makan. Beberapa ada yang ingin berfoto dulu baru kemudian makan.

Kami mengambil tempat tepat di depan panggung. Sambil mengambil makan kami melihat siapa saja yang datang di acara ini. Saya lihat banyak kakak tingkat STAN yang datang. Mereka berfoto bersama dan saling melepas rindu. Beberapa saya kenal. Tapi kebanyakan tidak. Ada juga teman satu angkatan saya yang datang. Inilah nikmatnya kalau ada acara walimahan. Ada reunian dadakan.

Setelah kenyang dan melepas rindu dengan teman-teman, kami akhirnya pulang. Tapi sebelumnya kami berfoto dengan kedua mempelai: mbak Niken dan mas Hadi. Mas Hadi bukan dari Pekalongan melainkan asli Batak. Namun demikian, keduanya terlihat serasi sekali. Ihiir… Tampak senyum merekah menandakan kebahagian yang sangat besar diantara mereka berdua. Barakallahulakuma.

Hilman dan Salman mengantar kami ke rumah Yani. Kami tidak kembali lagi ke rumah Salman. Karena setelah dari Pekalongan kami akan melanjutkan perjalanan ke Blora. Sebelum berpamitan dengan mereka, saya dan Kresna mengucapkan terima kasih yang kepada mereka berdua. Merekalah yang telah menjadi “tukang ojeg” kami di pekalongan. Menjemput di stasiun. Memberikan sarapan. Apalagi kue lupis yang lezat. Mengantarkan ke rumah mbak Niken. Hingga pulang ke rumah Yani.

Setelah Hilman dan Salman pulang, kami tidak langsung ke Blora. Kami menunggu mobil jemputan. Bukan jemputan dari keluarga Windy. Tapi mbak Ratih, seorang kakak tingkat yang memiliki tujuan yang sama dengan kami: ke Blora. Tapi bukan mbak Ratih juga yang mengendarai. Melainkan ayahnya.

Sekitar pukul 5 sore, jemputan pun datang. Kami berpamitan dengan ibu dan kakaknya Yani. Selain mengucapkan terima kasih, saya juga memberikan oleh-oleh khas lampung, kerupuk pisang, kepada dua keponakan Yani yang lucu dan imut: Nisa dan Ghozy.

****

Perjalanan pun dilanjutkan. Tidak langsung ke Blora. Melainkan ke Semarang dulu. Mampir ke rumah mbak Ratih. Karena acara di Blora baru ahad besok. Rumah mbak Ratih terletak di Semarang Utara.. Tidak jauh dari stasiun Poncol Semarang. Tapi saya lupa apa nama daerahnya.

Di dalam perjalanan menuju rumah mbak Ratih, kami mampir dulu di suatu masjid . Masjid yang berada di pinggir Jalan Dr Soetomo. Al Fairuz namanya. Dari luar sudah kelihatan megahnya. Yah, namanya juga masjid agung.  Halamannya luas. Interior dalamnya pun bagus. Tapi yang lebih penting adalah karena jamaahnya banyak.

Seusai solat, mobil kembali melaju. Tapi jalanan agak macet. Masih ada perbaikan jalan di jalan yang kami lewati itu. Karena suasana malam yang gelap dan macet ditambah rasa capek saya punya mencoba untuk tidur. Tidur dengan menyenderkan kepala ke bangku. Tapi tidak bertahan lama. Karena sedikit-sedikit saya bangun.

Jam 9 kurang kami sampai di rumahnya mbak Ratih. Kami masuk dan minum segelas teh manis. Kami ditawari untuk menginap di sana. Ada kamar yang kosong di lantai 3. Tapi saya dan Kresna memutuskan tidak menginap di rumahnya mbak Ratih. Kami akan menginap di Undip. Saya dan Kresna memiliki teman disana. Sekalian ingin silaturahim ke sana. Toh, kami belum pernah main ke Undip.

Ternyata Yani pun demikian. Dia menginap di rumah kakak tingkatnya. Seorang AR KPP Candisari. Mbak Dyah namanya. Rumahnya di daerah Tlogosari. Tapi karena sudah malam, kami diantar oleh ayahnya mbak Ratih dari rumah ke Tembalang dan Tlogosari. Keesokan harinya baru kami dijemput. Kemudian berangkat menuju Blora.

Part 3

Minggu pagi. Setelah solat subuh berjama’ah di masjid, saya meminta Pandu, teman saya yang kuliah di Undip, untuk jalan-jalan. Saya ingin melihat di Undip ini ada apa saja. Bagaimana lingkungan kampusnya. Ada bangunan apa saja.

Saya dan Pandu mengelilingi Undip dengan menggunakan sepeda motor. Waktu itu masih pagi-pagi sekali. Sehingga udara sangat segar. Dengan cahaya matahari yang baru terbit kami memandangi setiap bangunan. Melihat detail-detail hasil karya sang arsitek. Walaupun siapa yang membuat konsepnya ini pun saya tidak tahu. Para alumni Undip yang sudah jadi dosen atau malah pihak ketiga yang menang tender.

Kami mengelilingi Undip sekitar setengah jam. Undip masih sepi. Baru ada beberapa orang saja yang sudah melakukan aktivitas. Kebanyakan olah raga pagi. Kata Pandu, teman saya, biasanya kalau yang lari pagi itu anak-anak yang baru masuk. Masih mau tau bagaimana atmosfir kampus. Tapi kalau sudah angkatan tua banyak yang tidak mau lagi. Kecuali beberapa orang. Kebanyakan sibuk ngerjain tugas.

Mendengar pernyataan itu saya cuma menganggukan kepala disertai senyuman kecil. Selama di kampus saya belum pernah seperti itu. Belum pernah dapat dosen yang killer. Dapat tugas yang mau keluar kosan aja susah. Mesti di dalam kosan untuk ngerjain tugas. Atau harus standby di perpus buat nyari referensi. Di kampus sangat banyak sekali waktu luang. Bahkan sampai ikut organisasi dan kepanitian sana-sini. Walaupun IPK saya tidak bagus-bagus amat sih, hehe. Entah karena kultur yang ada di kampus atau memang saya yang lucky mendapatkan dosen yang tidak banyak memberi tugas kepada mahasiswanya.

Sehabis mengelilingi Undip dengan sepeda motor, kami mencoba mampir di suatu warung makan. Warung nasi uduk. Kami memesan dua piring. Satu untuk Pandu, satu lagi pasti buat saya lah. Tapi pas liat-liat menu, ternyata ada chicken katsu. Teman saya Pandu ternyata belum pernah makan chicken katsu! Yasudah. Saya minta dia buat ganti menu. Saya minta begitu supaya dia merasakan apa rasanya chicken katsu. Tapi sayangnya dia menolak. Akhirnya saya yang pesan chicken katsu.

Pada saat makan saya potong sedikit chicken katsu punya saya. “Nih ndu, cobain!”. Namanya juga chicken, pasti ayam. Cuma bentuknya aja yang gepeng. Dia pun mencoba. Walau sedikit. Sayang pas dicicipi rasanya kurang pas. Kenapa? Karena makannya pakai nasi uduk, bukan nasi biasa. Jadi chimestry antara nasi dan lauknya aneh. Apalagi saosnya juga kurang enak. Tapi karena lapar, tetap saja habis. Hehe.

Setelah sarapan, saya langsung pergi ke pintu gerbang Undip karena saya janjian dengan Kresna dan mbak Ratih disana. Pas sampai di gerbang masuk Undip, sudah ada Kresna yang menunggu disana. Tapi Mbak Ratih belum sampai. Ternyata mbak Ratih masih menjemput Yani di Tlogosari. Akhirnya kami berfoto-foto dulu. Cari spot yang bagus. Yang penting ada tulisan Universitas Diponegoro-nya. Biar keliatan abis dari Undip!

Setengah jam menunggu, akhirnya mbak Ratih pun datang. Saya pun berpamitan dengan Pandu. Saya berterimakasih kepadanya karena sudah dibolehkan menginap di kosannya. Sudah diajak keliling Undip. Plus dibayarin pas makan! Kemudian kami masuk mobil. Seperti biasa, ayah mbak Ratih lah yang mengemudi.

****

Perjalanan dari Semarang menuju Blora memakan waktu kurang lebih dua jam. Saat sampai disana kami beruntung masih bisa ikut mendengarkan pada saat sakral pada saat nikah: ijab-kabul! Saya agak kaget pas tahu maharnya adalah sebuah Kumcer. Kumpulan Cerpen! Baru kali ini saya lihat kalau ada seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan mahar Kumcer. Kalau buku sih sudah pernah lihat. Biasanya buku Tafsir Al-Qur’an dan Buku Fiqh. Tapi ini? Kumcer? Tidak ada hubungannya sama sekali.

Tapi ini Kumcer bukan sekadar Kumcer. Kumpulan Cerita ini merupakan buah karya dari mempelai laki-laki: Mas Andi! Sebuah masterpiece yang memang patut dijadikan mas kawin. Bukan masalah nilainya tapi proses perjuangannya. Tak dibayangkan berapa lama Mas Andi membuatnya? Itu lebih sulit daripada membeli emas.

Buku ini sekarang sudah dicetak. Sudah beredar dimana-mana. Anda pun bisa memesan buku ini. Tinggal hubungi Mas Andi atau mbak Windy saja. Murah koq, cuma 40ribu. (Sekalian Numpang promosi, hehe)

Setelah akad nikah pasti ada khutbah nikah. Khutbah nikah dibawakan oleh kiyai setempat. Khutbah dibawakan dengan bahasa jawa. Saya cuma bisa inggih-inggih saja. Soalnya Pak Kiyai pakai kromoinggil. Untung ada teman disamping saya yang bisa bahasa Jawa. Jadi dia sering mengartikan beberapa kalimat inti dari khutbah tersebut. Kata yang sering saya ingat itu cuma satu: wong liyo.

Wong liyo. Dalam bahasa jawa artinya orang lain. Inti khutbah yang saya tangkap hanya itu. Bahwa kalau sudah menikah jangan lihat orang lain. Jangan samakan dengan orang lain. Jangan mengeluh ke orang lain. Jangan minta ke orang lain. Mintalah ke istri. Lihatlah ke suami. Disana sudah ada solusinya. Tinggal bagaimana komunikasi antara keduanya dibangun.

Selain maharnya yang ‘aneh’ dan khutbahnya yang pakai bahasa jawa, ada satu keanehan yang saya dapatkan pada saat di Blora. Kalau biasanya saya ikut walimahan para undangan dipersilahkan makan dengan gaya prasmanan. Tapi disini para undangan tidak perlu repot-repot berpindah dari tempat duduk. Karena panitialah yang akan mengantarkan ke bangku Anda.

Jika dilihat dari filosofinya, ini maksudnya adalah ingin memuliakan tamu. Tamu tak usah repot-repot beranjak dari tempat. Biar tuan rumah saja yang repot mengambilkan. Tamu ingin dimanjakan. Tinggal makan. Selain itu ada nilai egaliter disana. Semua tamu mendapat menu yang sama dan porsi yang sama. Kalau prasmanan kan siapa duluan dia dapat. Bahkan bisa dihabiskan. Yang datang belakangan malah sudah kehabisan.

Pada saat makan, saya pun ngobrol sama teman-teman yang lain. Saya lihat banyak alumni STAN yang angkatan 07 dan 08 yang datang. Ada juga mas Bambang, salah seorang pegawai DJPB yang sekarang bertugas di KPPN Wamena. Saya berdiskusi dengan beliau. Tentang apa yang sedang saya kerjakan pada saat magang. Bagaimana perkembangan SPAN. Dan lain sebagainya.

Saya tidak lupa bagaimana kesan mas Bambang di KPPN Wamena. “Kurang orang  akh, disana”, keluh beliau. Ya, saya tahu. Tak usah jauh-jauh. Di kantor pusatpun masih butuh orang. Saya coba tanya bagaimana dakwah disana. “Ya, kalau untuk kajian dan liqo, biasanya cuma bisa muraja’ah sendiri”. Beliau menjelaskan bahwa di Wamena masih sedikit sekali wasilah buat memajukan dakwah disana.

Selain itu, mas Bambang juga menceritakan bahwa disana biaya hidup mahal. “Kalau makan telur itu 15ribu. Kalau ayam ya 25 ribu”. Sehingga mas Bambang dan teman-temannya yang lain sudah biasa masak sendiri. Lumayan, bisa sedikit berhemat. Mendengar harga yang begitu mahal, saya coba ajukan pertanyaan ke dia. “Kalau gitu, kenapa ndak bisnis ayam aja mas? Lumayan tuh. Daging dan telurnya bisa dijual”.

Mas Bambang cuma geleng-geleng kepala. “Itu dia akh masalahnya. Di Wamena itu banyak banget pencurinya!” Beliau menjelaskan bahwa orang asli sana berprinsip bahwa orang pribumi adalah raja. Artinya, semua barang milik pendatang adalah “halal”. Tak terkecuali pejabat eselon yang di Wamena pun tak luput dari aksi pencurian warga setempat. Jadi daripada bisnisnya gagal karena dicuri lebih baik fokus jadi pegawai negeri.

Tapi akh, bagusnya disana kalau mencuri, penduduknya fair“. Saya agak kaget. Pencuri dibilang fair? Mas Bambang menjelaskan bahwa maksudnya kalau ada yang mencuri terus ketahuan maka barangnya tidak jadi diambil. “Misal neh akh. Rumah antum kecurian. Terus pas lagi aksi antum melihatnya. Antum bilang ‘hei kamu pencuri!’. Si pencuri bakal menaruh barang curiannya. Kemudian kabur. Tidak jadi mencuri”

Mas Bambang menceritakan bahwa kalau ada yang seperti itu, pencurinya akan berjalan seperti biasa. Seperti tidak ada kemalingan. Soalnya, penduduk pribumi yang lainnya pasti akan melindungi. Mas Bambang menambahkan “Tak jarang aksi pencurian itu terjadi di siang hari. Pas kita lagi kerja!”. Intinya, kalau penempatan disana, harus super duper waspada. Si(a)p.

Setelah kurang lebih 2 jam di rumah Windy. Saya, Kresna, mbak Ratih, dan Yani kembali lagi ke Semarang. Ke rumah mbak Ratih. Malamnya kami harus pulang. Ke Jakarta untuk kerja seperti biasa.

Sampai di rumah mbak Ratih pukul 5.15 sore. Kereta berangkat jam 7 malam. Ada sekitar satu jam buat istirahat. Saya dan Kresna pun mandi. Kemudian Solat Magrib di Masjid terdekat. Setelah itu kami diajak makan malam bersama. Ibu mbak Ratih yang membuat makan malam. Menunya adalah ikan mujaer. Ada juga udang. Serta Tahu dan tempe. Semuanya lezat. Apalagi ditambah dengan sambel kecap. Ini salah satu kesukaan saya. Kami makan dengan lahap. Walau kami makan dengan agak cepat. Karena kami dikejar-kejar waktu. Khawatir ketinggalan kereta.

Habis makan, kami segera ke stasiun. Kami berempat berpamitan dengan orang rumah. Saya lihat di tas masih ada satu bungkus kripik pisang. Kripik pisang tersebut saya berikan kepada Ibu mbak Ratih sebagai ungapan rasa terima kasih kami.

Ke stasiun Poncol kami diantar oleh ayah mbak Ratih. Kami berburu dengan waktu. Khawatir kami terlambat. Apalagi sebelum naik kami harus mengganti nama yang tertera di tiket. Karena tiket kami awalnya adalah punya orang lain. Ini merupakan salah satu reformasi birokrasi dari PT KAI. Biar tidak sembarang orang yang masuk. Jangan sampai tiket yang ada berbeda dengan orang yang masuk.

Selain itu PT KAI juga telah memperbaiki kinerjanya. Seperti tidak diperbolehkannya penumpang yang masuk melebihi tempat duduk. Jadilah banyak berdiri. Tidak sedikit yang tidur di lantai. Ada juga yang satu bangku berempat. Padahal kapasitasnya cuma untuk dua orang.

Pedagang pun juga tidak sebanyak yang dulu. Kalau dulu hampir bisa dipastikan setiap menit kita mendengar teriakan para penjual di dalam kereta. Karenanya, menurut saya ini adalah kemajuan yang besar! Walaupun demikian, masih banyak masayarakat mengeluh tentang pelayanan PT KAI. Sehingga perubahan kea rah yang lebih baik ini diharapkan terus dilanjutkan.

Saat mau ke stasiun, kami teringat kalau belum membeli oleh-oleh. Saya dan Kresna minta izin untuk membeli oleh-oleh dulu. Akhirnya, untuk menghemat waktu yang sedikit itu, Yani dan Mbak Ratih pergi ke stasiun terlebih dahulu. Mereka yang akan mengurusi tiket . Sedangkan kami mencari oleh-oleh khas Semarang. Sehingga ketika kami sampai ke stasiun kami tinggal masuk.

Setelah mengantar mbak Ratih dan Yani ke stasiun, kami diantar ke jalan Pemuda. Ayah mbak Ratih menunjukan tempat membeli oleh-oleh khas Semarang. Ada beberapa pilihan sebenarnya. Yaitu Bandeng Presto, Lumpia, Wingko Babad, Tahu Bakso, dan lain-lain Tapi karena kami harus cepat maka yang paling mudah dijangkau adalah Lumpia. Saya pesan lima buah. Kresna pun demikian. Jadi semuanya sepuluh buah. Bungkus!

Untuk membuatnya ternyata dibutuhkan waktu 10 menit. Selagi menunggu dari stasiun Yani terus sms kami untuk segera ke stasiun. Khawatir kereta akan segera berangkat. Ada juga telepon dari Ruri dengan maksudnya yang sama. Tapi saya dan Kresna malah santai saja. Menunggu hidangan Lumpia kami matang. WAlaupun dalam hati ingin cepat-cepat naik kereta. Soalnya jika kereta sudah jalan kami terpaksa menunda kepulangan ke Jakarta. Padahal, besok hari saya harus sudah di Jakarta. Harus presentasi!

Setelah selesai dibungkus, kami kembali di stasiun. Saat bertemu Yani dan mbak Ratih di pintu masuk, ternyata kami belum diperbolehkan masuk. Ada apa ini? Setelah mendengar penjelasan dari mbak Ratih barulah saya mengerti. Tiket kami belum sempat untuk diganti nama. Pada saat Yani ingin mengganti nama ternyata sudah tidak bisa lagi. Sudah kurang dari 30 menit dari keberangkatan kereta katanya. Padahal di tiket sudah ada peringatan bahwa jika ingin mengganti nama harus menggantinya30 menit sebelum pemberangkatan. Itu juga salah satu kebijakan reformasi birokrasi yang ada di PT KAI.

Peraturan tersebut secara teori manajemen bagus. Biar semua orang disiplin. Jika baru ganti nama pada saat kereta mau berangkat, malah mengganggu administrasinya. Tapi sayangnya kami baru tahu ada kebijakan itu. Atau lebih tepatnya saya dan Kresna.  Karena kami berdualah yang jarang sekali naik kereta.  Tapi ketidaktahuan tersebut tidak bisa ditolelir. ignorante legs est lata culpa -rechtfictie-.

Padahal, saya dan kawan-kawan harus sampai di tempat masing-masing. Besok sudah hari senin. Mbak Ratih herus kerja. Yani juga. Saya apalagi. Besok harus presentasi. Presentasi yang sangat penting sekali. Sehingga tak boleh dilewatkan.

Kami mencoba melobi lagi ke petugas. Dengan segala cara. Mencoba merayu bahwa kami besok harus kerja. Mencoba mengajak bicara. Sampai-sampai kami memberanikan diri untuk bertemu dengan kepala kantor daerah operasionalnya! Tapi itu semua tidak dibolehkan. Saya agak membentak. Tapi sang petugas tetap bersikeras. Teman-teman saya yang lain sudah di dalam kereta dengan perasaan was-was. Menunggu kami yang belum jelas juntrungannya ini.

Kami hampir berputus asa. Apa harus cari bus saja? Atau naik kereta bisnis atau eksekutif yang berangkat malam ini? Tapi kan harga tiketnya mahal. Apa iya harus menunggu besok? Tapi kami kan harus sudah masuk kerja. Memang sih kalau tidak masuk cuma dipotong tunjangannya. Tapi saya kan presentasi. Mau disemprul sama para pegawai?

Entah kenapa ditengah rasa hampir putus asa itu, mbak Ratih disuruh petugasnya masuk ke dalam kantor. “Alhamdulillah, negosiasi berhasil!”, kata saya dengan gembira. Kami melihat sang petugas memberikan surat keterangan bahwa tiket yang ada telah diganti nama. Agak lama prosesnya. Sang petugas harus mengetik dulu nama dan nomor KTP kami satu persatu-satu. Lalu harus di print sebanyak dua kali. Padahal dari luar kondektur sudah menunggu untuk berangkat. Tapi masih belum diperbolehkan. Alasannya cuma satu: menunggu kami!

Haha. Saya tak menyangka ternyata keteledoran kami bisa memaksa kereta untuk tidak langsung keluar dari rumahnya. Setelah administrasi selesai, barulah saya, mbak Ratih, Kresna, dan Yani masuk ke dalam kereta. Semua petugas semuanya lega karena kereta sudah bisa berangkat. Teman-teman saya yang di dalam punya tidak was-was lagi.  Jadi merasa orang penting, ketika naik di sisi kanan dan kiri petugas KAI berbaris menanti kami😀.

Tidak lupa sebelum naik ke kereta kami berpamitan kepada ayah mbak Ratih. Beliau telah mengantarkan kami ke Pekalongan, Semarang, Blora, dan stasiun Poncol. Kalau tidak dijemput saya tidak tau harus jalan kemana dan naik apa. Terima kasih Om!

****

Kereta Semarang–Jakarta berangkat. Saya dapat duduk di pojokan. Pas disebelah fentilasi. Tempat favorit saya. Saya duduk dengan para penumpang yang bekerja di Jakarta.Saya tahu setelah sedikit berkenalan dengan mereka.

Mereka kalau akhir pekan pulang ke Semarang. Sedangkan Senin hingga Jumat mencari sesuap nasi di ibu kota. Tepat di depan saya, ada seseorang yang memakai masker. Saya lihat dia asyik sendiri bermain game pada saat saya mengobrol dengan para penumpang yang ada di dekat saya. Seperti tidak mendengarkan.

Saya coba tanya ke dia. Siapa namanya. Dan kerja di mana. Dia bilang kerja di daerah Gatot subroto. Karena saya familiar dengan daerah itu langsung saja saya tembak “Mas pegawai Pajak toh? Anak STAN juga toh?”. Dia bilang iya. Ternyata saya dan dia satu almamater. Tapi dia hanya diam saja pada saat saya bilang ke penumpang lain kalau saya lulusan STAN. Belakangan baru saya tahu kalau dia di bagian Kitsda. Makanya saya mahfum kalau dia diam saja. Kitsda kan para intelnya pajak. Jadi kalau bisa mendengar informasi sebesar-besarnya. Bukan malah bicara dan membocorkan informasi.

Kresna duduk di seberang bangku saya, selisih satu baris. Mbak Ratih di depan Kresna. Sedangkan Yani tepat dibelakangnya. Kresna berkenalan dengan lelaki di sebelahnya. Ternyata dia adalah seorang kru ‘chating dengan YM’, salah satu program TV swasta. Ada satu hal yang beliau ceritakan pada Kresna, bahwa pada dasarnya beberapa orang di TV (media) menyadari terkadang media itu jahat. Semua berjalan karena ada prinsip ‘harus komersial dan menjual’. Selain itu Kresna juga sempat mengklarifikasi seperti apa STAN itu. Karena begitu mendengar kata “STAN” pasti yang terngiang adalah Gayus.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, saya Cuma melihat mereka cekikan dan bercanda dengan temannya sebagnkunya hingga larut malam. Bahkan katanya sampai jam 2 pagi. Padahal penontonya (baca:teman-teman sekitarnya) sudah tertidur. Haha.

Di saat Kresna asyik mengobrol, saya sedang pusing memikirkan bahan presentasi besok. Apakah sudah selesai dirampungkan oleh teman-teman yang atau belum. Akhirnya saya mencoba pinjam HP ke Yani. Mencoba membuka email. Saya mau lihat hasil editan teman-teman satu tim untuk bahan presentasi besok.

Setelah saya download, ternyata slide yang saya lihat tidak jauh berbeda dengan konsep yang saya buat sebelumnya. Malah designnya masih putih polos. Hal ini menunjukan belum juga ada tanda-tanda kalau designnya diperbarui. Saya cuma bisa senyum kecut. Kalau slidenya belum jadi, entah apa yang akan kami presentasikan nanti? Daripada saya pusing sendiri dan tidak memungkinkan untuk mendapatkan solusi, akhirnya saya memutuskan untuk tidur saja!

****

Saat waktu hampir menunjukan pukul tiga pagi, kereta sudah sampai di Bekasi. Berarti sudah dekat dengan tujuan: Jakarta. Saya berencana turun di Stasiun Senen. Karena lebih dekat ke kosan, Cempaka Putih. Sedangkan Kresna masih bingung. Mau turun di stasiun Jatinegara atau Senen. Jika turun di Jatinegara, maka akan lebih mudah untuk mengambil motornya. Karena jarak antara stasiun dengan Rawamangun lebih dekat. Tapi kalau turun di Stasiun Senen, berarti dia ke kosan saya dulu baru setelah itu ke Utan Kayu untuk mengambil motornya yang dititipkan. Setelah saya tanya ternyata dia kekeuh turun di Staisun Jatinegara. Oke. Saatnya berpisah my bro!

Tapi sayangnya sebelum sampai di stasiun Jatinegara dia ternyata tidak punya teman. Apalagi saat itu masih pukul 3 subuh. Saya kasihan melihat dia. Akhirnya saya turun di stasiun Jatinegara. Beberapa teman Bece yang lain ada juga yang turun di sana.

Karena tidak tahu arah harus kemana untuk sampai ke Utan Kayu, saya tanya ke teman-teman Bece itu. Mereka bilang naik tangga lalu selusuri jalan ke arah Kantor Pusat Bea Cukai, Rawamangun. Daerah Utan Kayu tak jauh dari sana. Alternatif lain naik taksi. Jika naik taksi akan cepat sampai. Tapi kalau naik taksi nanti sampai di sana jam setengah empat. Tidak enak rasanya kami membangunkan orang jam segitu.

Jadi kami ambil jalan kaki saja. Anggap saja petualangan terakhir. Masa jalan-jalan ke Pekora (baca: Pekalongan – Blora) naik kendaraan terus. Tidak ada sensasinya. Jalan kaki baru kerasa tuh perjalanan jauh. Ditambah saya sudah lama tidak berolah raga. Sekalian mau lihat masih kuat apa kagak kalau diajak jalan jauh si kaki.

Oke. Let’s Go. Kami keluar dari stasiun Jatinegara. Menyusuri jalan raya. Disana terlihat sebuah tangga yang menghubungkan ke Fly Over. Saat mau naik tangga, saya lihat ada beberapa orang yang sedang asyik berjoget. Dangdut on The Street. Dengan salon dan music seadanya. Mereka asik berdangdut ria.

Saya dan Kresna cuma bisa geleng-geleng kepala. “Dangdutan koq jam segini? Ini Jam 3 subuh, Bung! Di jalan lagi. Mending kalau di rumah!” gerutu saya dalam hati. Lebih parahnya mereka adalah makhluk “dua dunia”. Saya dan kresna mempercepat langkah, khawatir tidak kuat godaan untuk ikut bergoyang.

Sesudah sampai di flyover, saya bertanya kepada orang-orang. Saya tanya di mana arah Rawamangun. Patokannya Kantor Pusat Bea Cukai. Mereka bilang terus aja lurus ke arah selatan. Saya tidak tahu itu jalan apa namanya. Akhirnya kami mengikuti kata bapak itu. Terus jalan ke arah selatan.

Sambil jalan saya ngobrol terus dengan Kresna. Bercerita tentang gimana rasanya ke Pekalongan dan Blora. Apa saja yang kami dapatkan. Adakah yang bisa dijadikah guyonan. Dan lain sebagainya. Perjalanan sekitar setengah jam itu pun tak terasa sama sekali.

Sampai akhirnya kami sampai di dekat warung kopi. Saya lihat sudah jam 3.45. Tapi ada perasaan aneh di hati saya “kok belum ada tanda-tanda kelihatan gedung Bece sama sekali. Bahkan dari jauh pun tidak kelihatan batang hidungnya”. Padahal gedung pusat Bea dan Cukai termasuk tinggi. Sehingga dalam jangkauan jauh bisa terlihat. Meski sedikit.

Karena khawatir salah jalan, saya coba tanya sama seorang pedagang burjo. Saya tanya kalau mau ke Rawamangun ke arah mana. Apakah benar terus ke arah selatan atau ke utara. “Wah, kalau Rawamangun itu kan arah Tanjung Priuk ya dek? Berarti seharusnya kamu ke arah sana (utara) bukan ke sini (selatan)”. Tuh, kan bener kalau salah jalan. Pantas saja tidak kunjung sampai!

Tapi saya tak mau lagi salah informasi lagi. Sehingga saya cari orang lain buat minta petunjuk. Sebagai pembanding. Kalau di dalam ilmu audit ini disebut “second opinion“. (Wah, masih inget!). Saya coba cari ada orang lain tidak di dekat situ. Ternyata ada dua orang bapak-bapak yang sedang asyik mengobrol. Sepertinya lagi ronda.

Saya tanya kalau mau ke arah Rawamangun jalan ke utara ataukah ke arah selatan. Dia bilang ke utara. Oke. Setelah mendapatkan dua jawaban dari orang yang berbead saya yakin satu hal: Kami salah jalan! Rawamangun terus ke Utara bukan ke selatan.

Padahal sudah setengah jam lebih kami berjalan ke utara. Terpaksa putar haluan. Balik lagi ke titik nol. Flyover! Berarti setengah jam lagi kami kesana. Hufh. Kami berjalan sambil ketawa kocak. Menertawai kekonyolan di subuh hari. Haha. Entahlah. Tapi perjalan di subuh hari pada waktu itu tidak terasa. Tiba-tiba sampai di titik nol (baca: fly over). Lalu, tiba-tiba juga sampai di Rawamangun. Setelah itu tiba-tiba lagi sampai di daerah Utan Kayu. Alhamdulillah. Akhirnya. Sampai juga.

Setelah hampir sampai di kosan Ingga, teman kami itu, kami mencoba menelponnya. Waktu itu masih jam setengah lima lewat. Pas saya telpon ternyata tidak diangkat. Sepertinya masih tidur. Coba saya telpon lagi. Diangkat. Tapi nada suaranya sperti orang yang baru bangun. Lemas sekali. Seakan nyawanya belum terkumpul di seluruh badan. Tapi diajak bicara nyambung. Kami beritahukan kalau kami sudah dekat dengan kosannya. Kami berniat untuk mengambil motor Kresna.

Tak lama kemudian Ingga datang. Ia menghampiri kami dengan membawa motor Kresna. Kami mohon maaf telah membangunkannya jam segini. Serta tidak lupa mengucapkan terima kasih kepadanya. Sebagai rasa terima kasih, Kresna memberikan oleh-olehnya, Lumpia goreng. Kemudian kami naik motor ke cempaka putih, kosan saya.

Sampai di kosan azan subuh mulai berkumandang. Saya taruh barang-barang. Kemudian saya ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Begitu juga dengan Kresna. Akhirnya kami solat subuh berjamaah di Masjid. Setelah pulang dari masjid kami ngobrol-ngobrol bersama Dharma dan Amin. Bercerita tentang bagaimana kami ke Pekora. Dari insiden kemalingan di Bus Lorena hingga jalan kaki hampir 2 jam!

Sekitar pukul enam pagi, saya mandi. Saya sudah harus siap-siap ke Hotel. Mau presentasi. Kresna masih tertidur. Sepertinya capek ngobrol (begadang) di kereta semalam. Akhirnya saya pun berangkat bersama Dharma sedangkan Kresna kami tinggal di kamar.

Sesampainya di hotel buru-buru saya menghampir teman-teman satu tim. Saya dan temen-teman sudah 3 bulan lebih magang di Direktorat Transformasi.  Ada 40 orang lain juga yang masuk di dalam DIrektorat TP. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Saya, Ipul, dan Hesty masuk ke dalam Tim Training SPAN.

Tim Training SPAN mengurusi segala jenis pelatihan. Mulai dari Training Aplikasi dan Non-Aplikasi. Tapi karena masih magang, kami lebih banyak mengurus adminsitrasi saja. Bukan jadi trainer.  Itulah yang menjadi bahan presentasi kami. Cuma sekadar adminsitrais. Sedikit kan? Tapi karena sedikit itulah sampai menjelang presentasi jam 11 pun slide kami belum rampung. Heu.

Selain administrasi, tak jarang kami juga membantu dalam tataran teknis. SPAN ini kan aplikasi. Baru lagi. Dan karena baru tidak banyak yang tahu bagaimana menggunakannya. Makanya butuh suatu buku panduan. User manualnamanya. User manual itu mencakup langkah-langkah masuk ke aplikasi, terus meng-upload data, membuat laporan dan sebagainya. Setiap langkahnya harus ada gambarnya. Ada screen shot-nya. Nah, kami dan bersama pegawai lain lah yang menyusun buku panduan ini. Lumayan buat amal jariyah!

Membuat buku panduan ini gampang-gampang sulit. Gampang karena kita tinggal jalanin aplikasinya aja. Sulitnya membuat bukunya menjadi informatif.  Dari sisi gambar dan kalimatnya. Jangan sampai kalimatnya tidak jelas. Atau malah ambigu. Dan jangan lupa gambarnya harus benar. Jangan sampai kalimat apa tapi gambarnya ke mana.

Karena kami aktif dalam hal teknis itu, kami sering diikut sertakan dalam rapat-rapat, konsinyering, training, dan focus group discussion (FGD). Selain kegiatan itu yang lain benar-benar bersifat administratif: membuat nota dinas, TOR, notulen, dan laporan.

Begitulah isi slide yang kami presentasikan. Hasilnya? “Dari 4 kelompok yang masuk, inilah yang paling bagus!”, begitu komentar para juri. Yeah. Walaupun capek-capek ke Pekalongan, ngebut ke Blora, hampir ketinggalan kereta di Semarang, dan harus jalan kaki selama 2 jam semua itu terbayar dengan presentasi yang sangat memuaskan. Alhamdulillah.

Nb: Oiya, sepertinya ada yang terlupa. Kresna lupa dibangunin!

Mau lihat foto ke pekora? Klik disini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s