Filsafat Ilmu (Review)

FI

sumber

Ilmu dimulai dari rasa ingin tahu. Kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu. Dan filsafat dimulai dari keduanya. Berfislasafat didorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicarai telah kita jangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri: Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu ? bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu? Apakah kegunaan ilmu yang sebenarnya?

Dengan bahasa yang sederahana, Jujun S. Suriasumantri ingin mengajak pembaca untuk mengurai masalah-masalah di atas melalui ¬†alur-alur berpikir yang ilmiah dan mencoba menerapkannya kepada masalah-masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Buku “Filsafat Ilmu” ini merupakan pengantar yang sangat elementer yang ditujukan kepada orang awam dan bukan kepada mereka yang berhasrat mendalami filsafat ilmu selaku bidang keahlian.

Fokus utama dari pembahasan buku ini adalah tema pokok yang hidup di sekitar masyarakat keilmuan, patokan-patokan dasar yang diterima oleh sebagian besar masyarakat keilmuan, tanpa melibatkan diri kepada variasi-variasai yang berkembang sekitar tema pokok tersebut. Buku ini juga membahas tentang bahasa, logika, statistika, dan metodologi penelitian ilmiah; di samping dampak ilmu dan teknologi terhadap moral dan kebudayaan.

Penyanjian yang dilakukan secara populer dalam buku “Filsafat Ilmu” ini dimaksudkan agar mempunyai daya jangkau yang lebih luas. Di samping itu, penyajian yang bersifat ringan dan santai dimaksudkan untuk mengimbau kecintaan terhadap bidang keilmuan, yang semoga, dapat mendorong mereka untuk mempelajari lebih lanjut secara mendalam.

Selamat membaca!

Behind the scene

Awalnya, agak ragu juga sih mau beli buku ini. Buat apa belajar filsafat? Bukannya sudah sering dengar bahwa banyak orang yang belajar filsafat malah jadi sesat? Maksudnya, mereka yang sesat itu tadinya golongan kanan– karena kebanyakan membaca filsafat– malah jadi liberal. Bahkah, tidak sedikit yang malah jadi atheis!

Itu mungkin hanya mindset saya. Soalnya, saya bisa bilang seperti itu hanya dari omongan teman-teman dan kakak tingkat. Belum pernah merasakan dan ketemu korban secara langsung. Jadinya, biar hipotesisnya bisa dikatakan ilmiah, saya mau ‘nyebur ke kolam’ buat jadi korban!

Untunglah pas udah ‘berenang’ di kolam filsafat, saya jadi ke asyikan berenang. Ternyata, airnya seger banget. Kolamnya gak dalam. Ombaknya gede, tapi asyik buat berselancar. Akhirnya, saya malah penasaran dengan buku-buku lain yang berbau filsafat. Khususnya, tentang pemikiran cendikiawan Islam abad XII Ibnu Rusyd (Averroes) :¬†The Double Truth Principle.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s